Cinta itu Menghargai: Cegah Kekerasan dalam Pacaran Pada Remaja/Anak Muda

Teman-teman remaja, apakah di antara kamu ada yang sedang punya pacar? Wah buat yang punya pacar rasanya hari-hari pasti menyenangkan ya karena ada yang dikasih dan mengasihi. Nah tapi apakah pacaran selalu menyenangkan? Tentu tidak karena saat kita berinteraksi dengan orang lain, konflik sangat mungkin terjadi. Apakah kamu atau sahabatmu pernah mengalami, melihat atau mendengar kekerasan dalam pacaran? Biasanya bentuk kekerasan apa yang dialami? Bagaimana dirimu atau sahabatmu merespon terhadap tindakan kekerasan yang dialami? Bagaimana mencegah tindakan kekerasan tersebut? Yuk mari kita bahas bersama.

Bentuk-bentuk kekerasan
Kekerasan dalam pacaran merupakan bagian dari kekerasan yang terjadi pada hubungan pasangan, dalam hal ini termasuk juga pasangan suami istri. Kekerasan dalam pacaran yang terjadi pada remaja atau anak muda dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk berikut :

  • Kekerasan fisik, seperti memukul, menampar, menendang, mendorong, mencengkram dengan keras tubuh pasangan, serta tindakan fisik lainnya.
  • Kekerasan psikologis, seperti mengancam, memanggil dengan sebutan buruk, mempermalukan, menjelek-jelekkan, dan lainnya.
  • Kekerasan ekonomis, seperti meminta pacarnya untuk membayar makanan, pakaian, dan kebutuhan pasangannya.
  • Kekerasan seksual, seperti memaksa pasangannya untuk melakukan perilaku seksual tertentu seperti meraba, memeluk, mencium, hubungan seksual padahal pasangannya tidak bersedia atau berada di bawah ancaman.
  • Stalking, seperti mengikuti, membuntuti, dan aktivitas lainnya mengganggu privasi dan membatasi kehidupan sehari-hari pasangannya.

Fakta kekerasan dalam pacaran pada remaja/ anak muda Indonesia

Nah ternyata tindakan-tindakan kekerasan tersebut cukup sering kita lihat dan alami dalam keseharian kita. Namun sayangnya banyak dari remaja atau anak muda yang belum tahu, sehingga terkadang tidak menyadari bahwa dirinya merupakan korban kekerasan. Penelitian pada 120 remaja putri di Kabupaten Purworejo, Jawa Timur menemukan bahwa 31% pernah dipukul oleh pasangannya, 18% pernah mendapatkan hinaan atau kata-kata kasar dari pasangannya, dan 26% dipaksa membelikan pulsa untuk pasangannya. Sedangkan Rifka Annisa, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menemukan sebanyak 385 kasus KDP dari total 1683 kasus kekerasan yang ditangani selama 1994-2011. Selain itu, selama bulan Januari hingga Juni 2011 PKBI Yogyakarta juga menemukan 27 kasus kekerasan dalam pacaran yang 15% di antaranya kekerasan fisik, 57% kekerasan emosional, 8% kekerasan ekonomi, dan 20% kekerasan ekonomi.

Dampak kekerasan dalam pacaran

Kekerasan dalam pacaran bisa mengakibatkan dampak buruk terhadap kesehatan seseorang sepanjang hidupnya loh. Remaja atau anak muda yang menjadi korban kekerasan sangat mungkin merasa depresi, cemas, murung dan prestasi belajarnya menjadi rendah. Mereka juga mungkin melakukan perilaku-perilaku tidak sehat seperti mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dan narkoba, mengalami gangguan makan, bahkan beberapa juga mungkin menyakiti dirinya dan  mencoba bunuh diri. Nah jadi jangan anggap remeh kekerasan meskipun itu dilakukan oleh seseorang yang kamu sayangi, yakni pacar kamu. Perlu kita pahami bahwa cinta itu menghargai, bukan menyakiti pasangan kita.

Waspadai mitos-mitos kekerasan dalam pacaran

Teman-teman remaja atau anak muda perlu waspada terhadap mitos-mitos kekerasan dalam pacaran. Berikut beberapa mitos yang seringkali kita percayai.

Mitos: Cemburu maupun kekerasan dari pacar adalah bentuk perhatian dia pada kita. Bisa juga diartikan sebagai tanda bahwa dia sangat mencintai kita.
Fakta: Itu bukan bukti cinta, tetapi upaya mengontrol kita agar patuh, tunduk, dan selalu menuruti kemauan pacar. Tindakan kekerasan tidak bisa dibenarkan apapun alasannya, karena setiap orang berhak untuk dihargai dan wajib menghargai orang lain yang ditunjukkan dengan perlakuan yang baik.

Mitos: Korban kekerasan juga punya andil memancing pelaku. Jadi, korban sendirilah yang menyebabkan kekerasan itu.
Fakta: Pelaku akan tetap melakukan kekerasan meski korban tidak melakukan apa pun. Dengan menyalahkan korban, si pelaku berupaya membela diri dan melemparkan kesalahannya.

Mitos: Kalau si dia sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, maka korban sudah ‘aman’ dan boleh percaya dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Fakta: Kekerasan umumnya terjadi seperti siklus atau lingkaran yang akan kembali pada pola lamanya. Sesudah melakukan kekerasan, pelaku sering meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Kita harus waspada karena janji-janji itu sulit dipercaya.

Mitos: Setelah melakukan kekerasan pada kita, si dia akan semakin mesra.
Fakta: Ini salah satu pandangan menyesatkan. Kalau dipikir-pikir, bakal lebih banyak kekerasan yang dialami dibandingkan mesranya.

Mitos: Pacar berhak melakukan apa saja karena kita sudah menjadi miliknya.
Fakta: Tak seorang pun berhak atas diri kita selain kita sendiri. Pacar dan suami pun tidak berhak memperlakukan kita tanpa persetujuan kita yang harus diambil dengan kesadaran penuh tanpa tekanan atau ancaman dari siapapun.
Bagaimana kamu bisa mencegah atau merespon kekerasan dalam pacaran

Pencegahan maupun penanganan kekerasan selama pacaran pada remaja atau anak muda sangat penting, karena biasanya korban kekerasan dalam rumah tangga juga mengalami kekerasan pada saat remaja. Sehingga sejak dini informasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan perlu diberikan. Selain informasi tentang kekerasan, sebaiknya remaja atau anak muda juga memahami tentang hak asasi manusia serta hak kesehatan seksual dan reproduksinya sehingga dapat lebih menghargai orang lain yang berbeda.

Cara yang paling efektif adalah dengan mencegah sebelum terjadinya kekerasan. Jadi penting bagi pasangan untuk sama-sama sepakat memahami hubungan yang sehat, bahkan sejak pertama kali memutuskan untuk berpacaran. Sebaiknya tentukan batasan-batasan atau harapan-harapan terhadap satu sama lain. Bicarakan konsekuensinya jika batasan-batasan tersebut dilanggar dan diskusikan jika harapan satu pihak tidak sesuai dengan harapan pasangannya. Nah penting juga untuk menyepakati bagaimana penyelesaian jika terjadi masalah. Yang paling penting, satu sama lain harus memahami bahwa masing-masing merupakan individu yang bisa mengambil keputusan secara mandiri tanpa boleh diancam atau dipaksa. Bahwa kamu lah yang paling berhak menentukan sesuatu atas tubuhmu. Jangan pernah berusaha menyenangkan pasangan kamu dengan tindakan yang sebenarnya tidak kamu senangi atau tidak nyaman melakukannya. Jadi berani berkata tidak disertai dengan argumen yang bisa meyakinkan pasangan kamu. Dengan demikian kamu juga belajar berkomunikasi secara asertif dan terbuka yang bisa membantu membuat hubungan kamu lebih baik.

Jika ternyata kamu atau sahabat kamu sudah terlanjur menjadi korban kekerasan dalam pacaran sebaiknya segera cari bantuan dengan menceritakan kepada orang terdekat yang bisa menolong kamu seperti teman, orang tua, atau keluarga. Pilihan lainnya adalah dengan menghubungi lembaga yang memberikan bantuan konseling maupun terapi terhadap korban kekerasan. Untuk yang tinggal di Jakarta, bisa menghubungi: LBH APIK (021-87797289), Mitra Perempuan (8298421), Kalyanamitra (7902109), SIKAP (3917760). Di Yogya ada: Rifka Annisa (0274-518720) LSPPA (374813), dan Savy Amira di Surabaya (031-8706255)

Kamu juga berhak untuk melaporkan ke penegak hukum, karena tindakan kekerasan merupakan pelanggaran hukum yang diatur oleh Kitab Undang-undang Hukum Pidata yakni pasal 351-358 tentang penganiayan fisik, pasal 289-296 tentang pencabulan, pasal 281-283 dan 532-533 tentang kejahatan kesopanan, dan pasal 286-288 tentang persetubuhan dengan perempuan di bawah umur.

Yang penting, kamu jangan takut untuk bertindak karena setiap orang berhak diperlakukan secara baik oleh orang lain, apalagi oleh orang yang disayang dan menyayangi kan!

Menjadi bagian dari perubahan!

Remaja atau anak muda juga bisa menjadi bagian dari perubahan loh. Kamu dan sahabat-sahabat sekolah, kampus atau sepermainan juga bisa membuat sebuah kampanye yang bertujuan untuk mengajak sahabat-sahabatmu untuk bisa memahami dan mencegah kekerasan dalam pacaran. Misalnya kamu bisa membuat poster, stiker, tulisan, status di facebook atau twitter dengan pesan tertentu yang positif. Dengan demikian, kamu sudah berkontribusi dalam mencegah kekerasan dalam pacaran. Keren kan! Buat kamu yang punya twitter bisa follow @AliansiRemaja atau @gerakan5jari untuk informasi terkait kekerasan dalam hubungan.

So, it’s ur choice, r u part of the this revolution ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s