Past Never Hurt (Masa Lalu Tak Pernah Menyakiti) part 3

SURPRISE….

Jenny bangun pagi-pagi sekali setelah disiram air dingin oleh Neneknya yang entah kenapa bisa sadis sekali hari itu.

Mereka berdua menysuri jalan setapak menuju kebun sayuran kecil yang terletak tak jauh dari rumah mereka. Embun pagi yang berada di pucuk-pucuk dedaunan sesekali menetes menyentuh kulit halus Jenny dan menebarkan hawa dingin di sekujur tubuhnya.

Matahari memang belum nampak seutuhnya. Keadaan masih setengah gelap. Udara pagi yang dingin terasa membekukan tulang-tulang Jenny. Ia menggigil.

“ Dingin Jen? “ Neneknya  bertanya santai. Tampaknya ia sudah terbiasa sekali dengan udara pagi yang menusuk. Tapi Jenny tidak. Walaupun sudah berada di desa itu cukup lama ia masih merasa belum bisa menyesuaikan dirinya. Memang sih di tempat tinggalnya dulu dingin. Tapi entah kenapa dinginnya terasa beda.

“ Nggak Nek, panas banget. Ya iyalah…udah tahu dingin dari tadi. “ Jenny kehilangan sopan santunnya. Mungkin karena masih dendam terhadap apa yang dilakukan Neneknya tadi pagi.

“ Maaf deh Jen, kalau Nenek tadi pada agak kurang ajar sama kamu. Habis kamu dipanggil-panggil nggak mau bangun. Sampai Nenek sudah teriak-teriak di telinga kamu juga kamunya masih molor. “

“ Jenny kan ngantuk banget Nek. Tadi malam aja pulang jam 12an. “

“ Siapa suruh kamu pulang jam segitu? “

“ Tapi kan Jenny ketemu sama teman baru. Makanya kami ngobrol-ngobrol banyak sampai lupa waktu. Apalagi teman baru Jenny dari kota. Jenny kan makin penasaran. “ Jenny bercerita penuh semangat mengingat pertemuannya dengan Reaza tadi malam.

“ Oh…gitu tho? Ya udah, kita udah sampai nih. Ayo cepetan. “ Mereka mulai menyebar di kebun dan memilih-milih sayuran untuk dipetik.

Di tengah-tengah pekerjaannya, Jenny merasa tergelitik untuk bertanya. “ Nek, sebenarnya…tamu kita nanti itu siapa sih? “

“ Mm…pokoknya tamu penting deh. Mending kamu lihat aja nanti. “ ternyata Neneknya pun bersikap menyebalkan seperti kakeknya.

“ Iya…tapi siapa Nek…? “ Jenny mulai merengek.

“ Udah ah, lihat aja nanti. “ akhirnya Jenny bungkam dengan bibir manyun.

Selesai dari kebun, Jenny membantu Neneknya yang segera berkutat di dapur sederhana dari tanah.

“ Nek, kenapa sih kemarin Kakek tanya-tanya soal sekolah Jenny? “ tanya Jenny penasaran. Kayaknya emang mulut anak satu ini perlu dibungkam isolasi biar nggak tanya terus.

“ Oh…emm…nggak tahu juga ya. “ Neneknya menjawab ragu-ragu.

Jenny yakin sekali sejak kemarin ada yang mereka sembunyikan dari dia. Dan dia terus penasaran. Tapi dia sudah kehabisan akal untuk mencari tahu. Jadi ia memilih untuk menunggu siapa yang akan datang ke rumah mereka nanti.

Tepat jam 12 siang, sebuah Mercedes Benz hitam berhenti di depan rumah Kakek Musrin dengan derum halus.

“ Itu pasti dia. “ Kakek Musrin bergumam pelan dan bangkit dari tempat duduknya.

Sementara itu Jenny dan Neneknya yang masih di dapur juga menghentikan pekerjaan mereka. “ Kayak ada suara mobil ya, Nek? “

“ Eh, i…iya. “ Neneknya segera bangkit dan mencuci tangan, lalu bergegas menyusul Kakek Musrin ke pintu depan. Jenny pun tak mau kalah. Ia mengekor Neneknya dari belakang.

Seorang wanita berumur sekitar 30 tahunan turun dari pintu belakang sebuah sedan hitam. Sepatu putih metaliknya terlihat lebih dulu. Lalu diikuti betis putih mulus yang menopang tubuh idealnya.

“ Wow… “ Jenny yang mengintip dari belakang punggung Neneknya mendesah kagum.

Wanita itu tersenyum. Rok denim hitamnya dan kemeja putih dengan ikat pinggang hitam besar melekat pas di tubuhnya. Ia membawa sebuah tas kulit hitam dan memakai kacamata hitam.

Rambutnya ikalnya pendek sebahu. Senyum manis tersungging di wajahnya yang mulus tanpa jerawat. Saat ia menurunkan kopernya dibantu oleh seorang supir, yaitu lelaki setengah baya yang terlihat ramah, Jenny memerhatikan kuku-kuku pink cantik di jari lentik wanita itu.

“ Assalammualaikum… “ sapa wanita itu kalem. Lebih tepatnya, anggun.

“ Waalaikumsalam… “ balas Kakek Musrin, Nenek Miranda, dan Jenny otomatis.

“ Apa kabar, Pak…Bu… “ wanita itu cipika cipiki dengan Kakek dan Nenek Jenny. Matanya berkaca-kaca, hampir saja air mata menetes bersiap merusak kecantikan make-upnya. Tapi, dengan sekali sentakan, ia mengahapus air matanya.

“ Kamu nggak berubah Rashika. “ Nenek Miranda malah sudah meneteskan air mata dan memeluk wanita yang dipanggil Rashika itu erat-erat.

Sementara Kakek Musrin masih memasang tampang kaku dan keras. Tapi, Jenny melihat sinar kasih sayang yang berkelebat di kedua bola matanya.

“ Jenny, ini Tante Rashika. Adik Mama kamu. “

“ A…apa? “ Jenny menutup mulutnya dengan kedua tangan. “ Ta…tapi, kenapa… baik Mama maupun Kakek Nenek nggak pernah cerita kalau Jenny punya Tante? “

“ Ng…kalau itu… “ Nenek Miranda melirik gelisah pada suaminya.

“ Jenny, antar Tante Shika ke dalam. Dia pasti capek. “ perintah Kakeknya, Jenny hanya bisa menelan lagi segala keingintahuannya.

___

Saat makan malam, semua terasa hening dan suram. Aura dingin menyelimuti ruang makan kecil dengan meja dan kursi seadanya itu dengan canda tawa. Tapi, tidak untukmalam ini. Beberapa saat kebisuan menguasai semua orang.

“ Jadi… apa kabar Bapak dan Ibu? “ tiba-tiba Tante Shika memecah keheningan. Gerakan semua orang terhenti. Jenny yang pertama kali mengangkat wajah dan memandang Tante Shika, Kakek, dan Neneknya bergantian.

“ Baik. “ Jawab Kakeknya pendek.

“ Kamu sendiri bagaimana, Shika? Sudah lama kamu tidak menerima kabar dari kamu? “

“ Oh…dia pasti sudah hidup senang sekarang, sampai lupa menaruh alamat rumah kita, Bu. “ Kakek Musrin menjawab pedas.

“ Shika baik-baik saja kok Bu. Sekarang lagi sibuk pembukaan Butik baru di daerah Bandung. “ Tante Shika mengabaikan Kakek Musrin dan dengan senyuman tenang menjawab Nenek Miranda.

“ Wow… Tante punya butik? “

“ Ya, ada sekitar 3 di daerah Jakarta Selatan, dan Butik baru itu butik kelima Tante di Bandung. “

“ Wah…pasti Tante Shika orang kaya ya? “ Jenny berceloteh dengan polosnya. Tante Shika hanya tersenyum menanggapi.

“ Ecm…Jenny, kamu udah nggak sekolah lagi ya? “ Tiba-tiba Tante Shika mengalihkan pembicaraan. Matanya melirik ke arah Kakek Musrin yang sedang sibuk dengan makan malamnya. Tapi, Tante Shika tahu bahwa Ayahnya hanya berpura-pura mengacuhkan pertanyaan barusan. Terlihat sekali dengan gerakan sendok yang mendadak berhenti lalu bergerak kembali menuju mulutnya yang sudah setengah membuka.

“ Iya, Tante. “

“ Kamu nggak kepengen melanjutkan sekolah lagi? “

“ E…he…he… nggak punya uang, Tan. “

“ Masa’ Kakek sama Nenek kamu nggak bisa biayain sih? “ kata-kata barusan benar-benar membuat gerakan Kakek Musrin yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya berhenti total. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Tante Shika dengan tajam. Tapi Tante Shika pura-pura tidak acuh dan memandang Jenny penuh keingintahuan.

Sementara Jenny sudah berkeringat dingin, ia memandang Kakeknya dan Tante Shika bergantian. Bingung bagaimana harus menanggapi pertanyaan Tantenya barusah.

“ Ehem… “ Nenek Miranda memecahkan keheningan dengan dehaman kerasnya, lalu berkata, “ Sebenarnya…kami sudah mencoba mencarikan sekolah yang cocok untuk Jenny, tapi sekolah-sekolah itu letaknya cukup jauh dari sini, dan…kami agak khawatir apa Jenny bisa… “ ia menggantung kalimatnya.

“ Bagaimana kalau kamu ikut Tante sekolah di Jakarta? “ Tante Shika bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengambil tas kulit hitamnya di atas sofa.

“ Lihat, Tante bawain brosur-brosur sekolah-sekolah di Jakarta. Coba kamu pilih salah satu. “

“ Shika! “ Kakek Musrin tiba-tiba berkata keras, “ Kami belum benar-benar memutuskan apa Jenny akan ikut kamu atau tidak. “

“ A…apa? apa maksudnya? “ Jenny hanya berkata tergagap-gagap antara kaget dan takut dengan kemarahan Kakeknya. Ia tahu kalau kemarahan Kakeknya sangat mengerikan.

“ Dia akan memutuskan semua itu, sekarang. “ Tante Shika berkata tegas dan menyerahkan tumpukan brosur itu pada Jenny. “ Pilih, Jen. “

Jenny bingung harus berbuat apa. Ia memandangi gambar-gambar gedung sekolah di setiap brosur. Semuanya terlihat seperti sekolah elite. Tangannya sampai gemetar.

Akhirnya, ia memegang brosur terakhir yang ia lihat. Sebuah gedung sekolah dengan cat biru muda, dan pepohonan rindang yang mengelilingi bangunan itu cukup membuat hati Jenny tertarik. Tempat ini pasti asri sekali.

“ I…ini Tante. “ Jenny menyerahkan brosur itu pada Tantenya.

“ Oh…pilihan bagus, Jenny. Ini salah satu sekolah paling elite di Jakarta. Kamu pasti suka. Tante akan daftarkan kamu segera. “

“ Shika! “ Sekali lagi geraman marah Kakek Musrin terdengar.

“ Oke, oke, kalau kalian nggak setuju Jenny ikut sama aku. Bagaimana kalau kalian tanyakan sendiri bagaimana pendapat Jenny. “  sekarang semua orang di meja makan memandang penasaran pada Jenny.

“ Aku…aku… ng….kasih aku waktu satu malam. Aku juga perlu berpikir. “ Tante Shika tersenyum senang. Ia yakin bahwa ia akan menang.

“ Oke. Terserah kamu aja. Itu juga demi masa depan kamu kok. “ selesai berkata begitu, Tante Shika bangkit dari tempat duduknya dan membawa piring ke belakang. “ Aku sudah selesai. “

___

“ Kamu…mau ke Jakarta?! “ Eky memekik tak tertahankan.

“ Iya…Ky…  Tapi… “

“ Bagus banget itu, Jen! “ Jenny terperangah memandang mata Eky yang terlihat berbinar-binar gembira.

“ Kamu…nggak apa-apa kalau aku pergi dari desa ini? “ Jenny memainkan kakinya di dalam air sungai yang jernih dan terasa dingin.

“ Kamu tahu kan, aku akan selalu dukung apa pun keputusanmu. Dan aku akan senang sekali kalau kamu bisa memilih apa yang terbaik buat kamu. Kamu…harus pergi, Jenny. “ Eky memegang tangan Jenny, seakan memberikannya kekuatan.

“ Tapi Ky…aku takut. Seandainya saja kamu bisa ikut sama aku. “

“ Kamu gila ya? Dengan kondisi keluargaku yang kayak gitu, kamu berharap aku mendaftar di salah satu sekolah paling elite di Jakarta? Yeah…mimpi kali? “

“ Aku…Cuma takut. “

“ Jen, nggak akan ada hal besar yang tidak didahului oleh langkah maju, langkah keberanian. Kamu pasti bisa, Jenny. Semua keraguan di dalam diri kamu itu cuma berasal dari sugesti kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu nggak bisa. “ Eky meremas pundak Jenny.

“ Makasih Ky, mungkin…aku memang akan pergi. Lagipula… “

“ Ini impian kamu sejak dulu kan? Aku tahu. “

“ He…he…he… iya. “ Jenny hanya cengengesan.

Gemericik aliran air sungai terasa menghanyutkan mereka berdua ke dalam lamunan masing-masing. Hanya desir angin dan ributnya daun pepohonan yang bergesekan yang mengisi keheningan itu untuk waktu yang cukup lama.

“ Aku… “ Tiba-tiba mereka berkata bersamaan.

“ Ha…ha…ha…! kamu duluan deh. “ Jenny tertawa.

“ Emm…mungkinkah kamu bakal ngelupain aku? Kalau itu yang akan terjadi, aku nggak akan ngebiarin kamu pergi. “

“ Oh…Eky, “ Jenny memeluk Eky. “ Kamu itu temanku sejak kecil, kamulah satu-satunya teman pertamaku dan orang yang mau berteman dengan ‘bule kesasar’ kayak aku. “ Jenny tersenyum geli mengingat julukan yang dulu ia dapatkan saat ia baru tiba di desa itu.

“ Kamu…harus janji ya? “ air mata mulai menggenang di mata Eky.

“ Iya…aku janji. Kita teman, selamanya… “ Jenny turut menangis dan memeluk Eky lebih erat.

Tidak disangka, sedari tadi ada yang memperhatikan tingkah laku mereka. Dan orang itu sedang bersembunyi di balik sebatang pohon sambil menahan senyum.

Krek! Suara ranting pohon yang terinjak membuat Jenny dan Eky menoleh bersamaan. Dan mereka melihat Reaza yang sedang cengengesan.

“ Re? “ Jenny bergumam.

“ Hei cewek-cewek… he…he…he… sorry ya, kalau ganggu saat-saat sentimetil kalian. “ Reaza hanya senyum-senyum nggak penting.

“ Yee…gue kirain siapa. “ Eky bangkit dan membersihkan roknya dari daun-daun yang menempel, lalu melangkah pergi.

“ Lho, Ky? Kamu mau kemana? “ Jenny heran melihat Eky yang tiba-tiba pergi tanpa berpamitan.

“ Sorry ya kalau aku tahu diri. Aku nggak mau kok ganggu orang yang lagi pacaran. Aku ke hulu sungai sebentar ya? “ Ia mulai melucuti pakaiannya dan terjun bebas ke sungai.

Byuurrr…!!! Lalu dengan kelincahan seekor ikan, ia berenang menjauh. Untung saja hari itu arus sungai tidak terlalu deras. Dan sungai itu juga bebas dari batu-batuan. Hanya ada kerikil yang bertaburan di dasar sungai, sehingga baik Reaza maupun Jenny tidak khawatir kalau Eky bakal terseret arus.

Lagipula, semua orang tahu kalau berenang adalah hobi Eky sejak kecil. Ia sudah hapal segala seluk beluk sungai tersebut dan bagaimanakah arus di sungai itu. Eky juga seorang perenang yang cukup hebat.

“ Ha…ha…ha…! dasar anak aneh. “ Reaza tertawa melihat tingkah adiknya. Begitu pula Jenny. Kemudian dengan gerakan canggung, ia duduk di samping Jenny yang masih merendam kakinya di dalam air sungai.

“ Kamu…denger yang tadi? “ tanya Jenny penasaran.

“ Yah…gitu deh. Nggak sengaja kok. Aku tadi melihat kalian berbelok ke arah sungai. Kayaknya seru. Makanya aku ngikut aja. “ Reaza berkata sungkan.

“ Nggak apa-apa kok. Bukan hal yang rahasia. “ Jenny tersenyum manis.

“ Kapan kamu berangkat? “

“ Aku sendiri nggak tahu. Ini baru rencana kok. Aku…masih belum siap ninggalin desa ini. Terutama pisah dari kakek dan Nenek. “ Jenny menghela napas dan tertunduk lesu.

“ Tapi…bukankah itu semua impian kamu? “ Reaza menatap wajah sendu Jenny.

“ Iya. Aku tahu. Tapi, aku takut. Aku takut nggak akan kembali lagi kesini. Aku takut kalau Nenek atau Kakek sakit dan aku nggak ada disini. Aku takut kalau aku nggak diterima di sekolahku yang baru. Aku takut semuanya, Za. “

“ Jenny, semua hal besar memang diawali dengan ketakutan. Karena itu ada keberanian. Kamu harus berani dan tangguh untuk menggapai semua impian kamu. Dan aku yakin, kamu pasti bisa mengatasi semua hal. Tentang Kakek dan Nenek kamu. Mereka kan masih punya tetangga-tetangga yang baik hati, kayak orangtua Eky, yang sudah mengenal mereka sejak dulu. Dan tentang sekolah baru kamu. Terserah orang mau bilang apa tentang kamu. Tapi, kamu pasti bisa menjadi apa yang kamu inginkan. “

Jenny mengangkat wajahnya dan memandang Reaza dengan sedikit tersenyum. “ Tapi, semua itu tidak setakut perasaanku untuk meninggalkan kamu. “ Reaza tertawa.

“ Lho?! Kok malah ketawa sih?! Nggak lucu tahu! “ Jenny ngambek.

“ Habis kamu bilangnya kayak orang yang udah siap pergi ke surga sih. “

“ Ih…ngedoain aku biar cepet mati ya?! “ Jenny memajukan bibir mungilnya yang tipis.

“ Nggak kok…nanti kalau kamu mati kan aku… “

“ Kenapa? Sedih? Nangis 7 hari 7 malam? “ Jenny memotong perkataan Reaza.

“ Ih, siapa juga yang punya stok air mata sebanyak itu? Aku tadi mau bilang, kalau kamu mati, aku nggak bisa takziyah lho… “

“ Idih…Reaza jahat! “ Jenny mulai menghujani tubuh Reaza dengan pukulan.

“ Auw! Auw! Aduh! Iya…Ampun! “ Reaza berlari. Jenny mengejarnya dengan bersemangat. Akhirnya Jenny berhasil menyusul Reaza yang sengaja berlari lebih pelan. Dengan sekuat tenaga Jenny mendorongnya.

Byur!! Reaza terjatuh dari sisi tebing ke dalam sungai. “ Reaza…!! “ Jenny berteriak panik. Apalagi dilihatnya Reaza jatuh di bagian sungai yang dalam dan berarus deras.

“ Reaza…!! “ Jenny semakin panik saat dilihatnya Reaza tak kunjung muncul ke permukaan. Tanpa pikir panjang Jenny langsung menceburkan dirinya ke air yang mengalir cukup deras. Ia menyelam ke dalam sungai dan sesaat kemudian muncul ke permukaan. Ia menebarkan pandangannya ke segala penjuru dengan kepanikan luar biasa.

Bagaimana ini? Bagaimana jika Reaza mati?! Tidak! Aku tak mau itu terjadi! Berbagai pikiran buruk berkelebat dan merasuki hatinya. Jenny hampir menangis saat tiba-tiba kakinya terasa berat. Sesuatu mencengkram kakinya dari bawah. Inikah makhluk halus yang selama ini menjadi legenda di kampungnya?! Perasaan takut seketika melingkupi sekujur tubuhnya.

Jenny berteriak sekeras-kerasnya saat makhluk itu menyeret kakinya. Ia sudah tidak sanggup berdiri dan menahan keseimbangannya di dalam sungai yang mengalir deras dan hampir menghanyutkannya itu.

“ Aaaaa….!!!! “ teriakan Jenny memecah keheningan di siang hari itu.

Pyash!! Kecipak air terdengar di hadapan Jenny yang memejamkan matanya erat-erat karena takut. Tidak dirasakannya lagi genggaman erat di kakinya. Apakah ia sudah mati? Jenny takut membuka mata. Selama beberapa saat yang didengarnya hanya deburan arus sungai menghantam bebatuan.

Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dan antara senang, kaget, bercampur lega, seluruh perasaan itu menghambur ke dadanya, saat dilihatnya Reaza berdiri dengan senyuman lebar di depannya. Matanya mengerling jahil.

Jenny baru tersadar, tidak mungkin seorang anak laki-laki dari kota tidak bisa berenang, apalagi kalau tahu Reaza besar di desa ini juga. Jenny dijahili!

Menyadari semua itu terasa sangat menyebalkan. Jenny merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya ia tidak sadar akan semua kemungkinan itu. Ia terlalu mudah panik dan ketakutan akan kehilangan Reaza. Tidak terpikir olehnya bahwa lelaki tengil di depannya itu cuma ingin menguji hatinya.

Air mata hangat mulai menggenang di pelupuk matanya, mewakili kobaran panas kemarahan yang menyesakkan di dalam dadanya. Tubuhnya yang terendam dari dada ke bawah pun mulai menggigil kedinginan.

Raut wajah Reaza pun berubah saat melihat kekesalan Jenny. Jenny menggertakkan giginya dengan geram. Ketika titik air pertama jatuh dari pelupuk matanya, ia pun berbalik dan berusaha memanjat tebing sungai yang licin lalu naik hingga ke tepi tebing, berbalik dan menatap marah pada Reaza yang masih melongo di dalam sungai.

“ Aaarrgghhh…!!! “ teriaknya marah karena tak tahu apa yang mau dikatakannya. Lalu ia berderap pergi dan hilang seketika dari pandangan mata Reaza.

Reaza ingin tertawa melihat tingkah laku Jenny yang menggemaskan, tetapi ia juga takut dan khawatir Jenny benar-benar marah.

___

Malam itu Jenny benar-benar tidak bisa diam. Ia benar-benar harus meluapkan kekesalannya hari itu. Sudah berjam-jam ia hanya mondar-mandir di kamarnya. Kadang duduk, mendesah keras, lalu kembali mondar-mandir sambil menggeram-geram kesal. Neneknya yang hendak memanggilnya untuk menyuruhnya membantu menyiapkan makan malam pun mengurungkan niatnya melihat paras jutek cucunya.

“ Jenny? “ suara Tante Shika membuyarkan lamunan Jenny yang kali ini berganti pose dan duduk bersandar di pinggir jendela.

“ Eh, Tante? Ada apa? “ sikap Jenny kali ini benar-benar membuat bingung Tantenya. Ternyata keponakannya itu benar-benar pintar sekali menyembunyikan perasaan.

Ia berhasil menutupi kegalauan hatinya dan tersenyum ramah pada Tantenya. “ Tante pikir kamu sedang kesal. Ternyata masih bisa tersenyum seceria ini ya? “ Jenny berhenti tersenyum.

“ Maksud Tante? “

“ Mukamu tuh, serem tauk. Sampai-sampai tadi Nenek jadi ngbrit ngelihat tampang jutek kamu. “ Tante Shika mendesah dan duduk di tepi ranjang Jenny.

“ Jadi, Nenek tadi sempat kesini? “

“ Iya, manggil kamu buat makan malam. “

“ Terus? “

“ Ya seperti Tante bilang tadi, Nenek langsung kabur lihat seremnya wajah kamu. “ Tante Shika cekikikan seenaknya. “ Sebenarnya, kamu kenapa sih? Mulai dari pulang main tadi, kamu jadi aneh. “

“ Hhh… nggak apa-apa kok Tan, “ Jenny turun dari tepi jendela dan ikut duduk di samping Tantenya.

“ Nggak apa-apa gimana? Memangnya Tante buta apa? Jelas-jelas wajah kamu suntuk gitu? “

“ Udah deh…Jenny beneran nggak apa-apa kok. Ayo, kita makan malam. “ Jenny menarik tangan Tantenya dan keluar dari kamar menuju ruang makan.

Selama makan malam, Jenny hanya terdiam dan merenung. Makannya pun ogah-ogahan. Nggak niat banget deh pokoknya. Masa’ dia tadi ngambil sayur satu centong besar dan nasinya cuma 3 sendok.

“ Kamu tuh mau makan nasi lauk sayuran, atau sayuran lauk nasi sih Jen? “ Jenny tersentak saat Neneknya menegur.

Ia memandang ke piringnya. “ Hah? Aduh…maaf Nek, Jenny tidak sadar sama sekali. “ Jenny cepat-cepat mengurangi sayurannya dan menambah nasi ke piringnya. Tante Shika yang melihat hanya geleng-geleng kepala. Sementara Kakeknya seperti biasa hanya melirik sekilas dan meneruskan makannya.

Keheningan di meja makan terus berlanjut sampai Jenny menjatuhkan gelas. Pyar!! Dentingan kaca beradu dengan lantai semen memecah keheningan.

“ Aduh…!!! maaf Nek! “ Jenny panik dan langsung bangkit dari kursinya, memunguti pecahan gelas. Neneknya bergegas ikut membantu.

“ Kamu ini sih…makan sambil melamun. Sebentar, Nenek ambilkan sapu. “ Nenek Miranda bergegas mengambil sapu.

“ Awas kena pecahan gelasnya Jen… “

Baru saja diperingatkan, Jenny tanpa sadar memungut pecahan gelas tanpa hati-hati. “ Aww!! “ Ia menjerit kesakitan saat pergelangan tangannya tergores cukup dalam.

“ Jenny! “ Kakeknya yang sedari tadi hanya diam mengamati langsung turun tangan.

“ Sudah, biar Nenek saja yang membersihkan. Shika, cepat ambil obat dan perban. “

Jenny hanya terdiam, merintih kesakitan sambil memandangi pecahan gelas yang menancap dan darah yang mengucur dari pergelangan tangan kirinya. Hampir saja ia mati. Untung luka itu tidak sampai mencapai pembuluh darahnya.

“ Kamu tuh kenapa sih hari ini? Ceroboh sekali! Coba kalau luka itu sampai kena bagian yang berbahaya. Kamu bisa mati tau! “ Kakeknya berseru marah.

“ Maaf Kek, “ hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Jenny. Entah kenapa sakit itu tidak terlalu terasa saat ini.

“ Ini, obatnya. “ Tante Shika datang membawa perban, gunting, dan betadine.

“ Tahan sebentar ya. “ Jenny menangis kesakitan sambil menggigit bibirnya saat Kakek Musrin mencabut pecahan sebesar kuku jempol yang menancap di tangan Jenny. Rasanya pasti perih.

Dengan cekatan Tante Shika membantu Jenny membasuh lukanya dan meneteskan obat ke luka Jenny lalu membalutnya dengan perban kuat-kuat. “ Semoga lukanya cepat mengering. “ Tante Shika tersenyum prihatin pada Jenny dan bergegas membantu Nenek Miranda membersihkan pecahan gelas yang tersisa.

“ Sakit, pergilah. “ Jenny menyeka air matanya dengan punggung tangan kanan dan mencium tempat dimana luka itu berada. Kebiasaan yang didapatnya dari Mommynya sejak kecil.

Dengan masih menggerutu perlahan, Kakeknya pergi meninggalkan Jenny duduk sendirian di ruang tamu.

“ Perih… “ rintih Jenny perlahan. Tapi ia memegang dadanya, seakan rasa sakit itu berasal dari sana. Dan memang itu yang sedang dirasakannya sekarang.

Ia tidak menyangka bahwa Reaza tega mengerjainya seperti itu, padahal ia sangat cemas, ia benar-benar takut kalau Reaza mati.

Jenny bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar rumah. Ia duduk di beranda depan rumahnya. Sambil memandangi langit malam dan bintang-bintang yang bertaburan gemerlapan di hamparan kelam di atas sana, Jenny mulai merenung kembali.

Hawa malam yang dingin membelai kulitnya dan membuat pipinya terasa dingin. Jenny menghirup segarnya udara malam. Sambil sesekali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

“ Dingin… “ gumamnya perlahan.

“ Kalau dingin masuk aja. “ sebuah suara mengejutkannya. Ia menoleh ke belakang. Tante Shika sudah berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“ Tante Shika? “ Tante Shika tersenyum memandang keponakannya yang terlihat makin cantik di bawah sinar rembulan perak itu.

“ Kamu lagi ngapain, Jen? “

“ Ng…nggak ngapa-ngapain, Tante. “ Tante Shika merasa kehabisan kata-kata. Ia ingin menghibur keponakannya, karena bagaimanapun hari ini Jenny terlihat kacau. Tapi, ia juga tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan.

“ Jen, tahu nggak? “ Jenny menggeleng.

“ Gimana mau tahu kalau Tante nggak ngomong apa-apa. “

“ Nah, jadi kamu mau Tante ngomong kan? “

“ Ha? “ Jenny hanya melongo. Batinnya, Tantenya ini aneh banget sih?

“ Nah, waktu itu kan di salon Tante ada bapak-bapak datang, dia minta rambutnya dipotong. “

“ Tante punya salon? “

“ Oh…ada banyak di Jakarta. Dan salon Tante juga besar-besar lho… “

“ Oh ya? “

“ He-em. Nah, tuh bapak-bapak kebetulan dilayani sama si Banci, Niken. Nanti deh, kalau kamu kesana Tante kenalin. Niken tanya, mau dirapiin doang apa di gundul pak? Bapak itu bilang, dirapiin aja. Lha, habis dikeramasin, Niken siap-siap motong rambut bapak tadi. waktu dipotong, Niken kelihatan udah sebel banget, soalnya tuh bapak minta yang aneh-aneh, dia pengen rambutnya kelihatan funky lah, tapi nggak kayak ABG. Terus dia juga minta supaya rambutnya dikasih efek rambut berkibar segala. Entah apa maksudnya. “

“ Waktu udah selesai, bapak-bapak itu tersenyum, puas sama kerjaan Niken yang udah duongkol banget. Tiba-tiba, Bapak itu ngelepas rambutnya yang ternyata wig, ternyata, bapak itu aslinya botak. Dipegangnyha tuh wig sambil angguk-angguk dan mendecak puas, katanya gini, ‘ Nah, sekarang rambut saya lebih bagus, makasih banget yaw…? ‘ dengan genitnya si bapak nyolek-nyolek Niken. Terang aja, Niken yang dari tadi udah napsu pengen nelen bapak itu bulat-bulat, langsung menjitak kepala si Bapak, terus dia ngedumel sambil pergi saking jengkelnya. ‘ Beli rambut palsu lagi kan gampang?! Duh…pengen ike telen tuh botaknya yang kayak bakso! ‘ “

“ Ha…ha… lucu banget Tante. “ Jenny tertawa tak niat. Dia sendiri nggak ngerti maksud ceritanya.

“ Ha…ha…ha…! tuh kan, udah Tante kira kamu pasti suka ceritanya. “ Tante Shika cekikikan menyangka dirinya berhasil menghibur Jenny.

“ Jujur, aku nggak ngerti ceritanya apaan. “ senyum di bibir Tante Shika mendadak lenyap.

“ Hah? Nggak Tante sangka kamu lemot gini, Jen. “

“ Tante…!! “ Jenny mulai ngambek.

“ Ha…ha…ha…! iya deh…iya, Tante cuma bercanda kok! “ Tante Shika tertawa sementara bibir Jenny bertambah manyun.

Ssrrrk! Tiba-tiba suasana mendadak hening. Srrk, srrk, Tante Shika dan Jenny berusaha memastikan bahwa telinga mereka tidak bermasalah.

“ Kamu…denger itu, Jen? “

Glek. Suara Jenny seperti tersangkut di tenggorokan. Ia hanya menelan ludahnya sendiri. Krosak! Lalu tba-tiba suara langkah kaki terdengar menginjak patahan ranting.

Jenny dan Tante Shika duduk lebih merapat. Mereka memicingkan mata berusaha memandang ke arah kegelapan di semak-semak di depan rumah mereka. Yang terlihat hanya kegelapan.

Tiba-tiba suara-suara itu lenyap. Yang terdengar hanya suara Jangkrik dan hewan-hewan malam lainnya. Termasuk bunyi burung hantu dari kejauhan.

“ Apa ya tadi? “ ketegangan mulai mengendur dan mereka berdua baru sadar bahwa sejak tadi mereka saling berpelukan erat.

“ Jenny juga nggak tahu, Tante. “ Jenny mengusap peluh di keningnya. Walaupun udara malam begitu dingin , keringatnya tetap saja keluar berkat suasana tegang selama beberapa saat tadi.

“ Mungkin cuma kucing yang lewat ya. “ Tante Shika berusaha terlihat tenang daripada yang sebenarnya.

“ Iya. “

Srak…!! tiba-tiba suara daun bergesekan terdengar lagi. Krek, krek, dan suara ranting yang patah terinjak mulai mendirikan bulu kuduk mereka berdua lagi. Tiba-tiba angin bertiup lebih kencang membelai permukaan kulit Jenny dan membuat Jenny semakin merinding.

Srak…srak…srak… Jenny dan Tante Shika mulai berpelukan lagi. Dan kali ini ketegangan benar-benar terlihat di wajah mereka karena suara langkah itu terus terdengar. Dan saat sesosok bayangan berjalan keluar dari semak-semak dan melangkah semakin dekat ke arah mereka. Wajah Jenny dan Tante Shika sudah sepucat mayat.

Kegelapan masih menyelimuti tubuh makhluk itu. Hingga sosoknya sedikit demi sedikit mulai terlihat. Besar, hitam, dan bertanduk?!

Dan saat langkah kaki makhluk besar-hitam-bertanduk itu semakin mendekat dan mendekat hingga akhirnya ia berdiri di depan mereka berdua, Jenny dan Tante Shika sudah menjerit keras.

“ Aaaaarrggghhh….!!! “

Brak!! Suara pintu depan didobrak sedikit melegakan Jenny dan Tante Shika. Kakek Musrin muncul dengan tongkat bamboo di tangannya. Jenny dan Tante Shika segera berlari melindungi diri di belakang Kakek. Saling bergelayut di masing-masing lengannya. Nenek pun segera menyusul dan berdiri di belakang mereka sambil melongokkan kepala keluar.

“ I…itu… “ Jenny berbicara tergagap.

“ Jenny? “ sosok itu maju selangkah hingga sorot lampu meneranginya sepenuhnya. Jenny hampir melotot saat melihatnya.

“ Reaza?! “ ia dan Tante Shika berseru berbarengan.

“ Iya, ini aku. Ada apa? “ Jenny dan Tante Shika mengamati baik-baik penampilan Reaza. Ia menaikkan sarungnya ke kepala hingga sosoknya terlihat besar dan tanduk yang tadi dilihat Jenny hanyalah patahan ranting yang tersangkut di punggungnya. Kalau hitamnya sih memang karena ada gelap.

“ Huuff… “ Tante Shika merosot terduduk dan bernapas lega. Tapi, tidak demikian dengan Jenny.

“ Kamu mau bikin kami semua jantungan ya?! “ Jeritnya histeris.

“ Jenny? “ Kakek Musrin dan Tante Shika memandangnya heran. Apalagi saat melihat air mata di pelupuk matanya.

“ Eh…emangnya aku salah apa? “ kali ini ganti Reaza yang bengong.

“ Ng…nggak kok, siapapun namamu. Tadi kami berdua cuma salah paham dan jadi ketakutan waktu kamu berjalan kesini. Kami kira kamu sebangsa…genderuwo atau apa gitu. He…he…he… “ Tante Shika menjelaskan.

“ Oh..ya ampun… aduh…maaf banget ya… “

“ Tante Shika. “

“ Maaf banget Tante Shika, saya nggak nyangka akan membuat Tante sama Jenny kaget setengah mati. “

“ Iya, nggak apa-apa kok. Iya kan Jen? “ mereka semua memalingkan wajah pada Jenny.

“ Kamu tuh gila ya?!! Sudah cukup kamu buat aku marah hari ini! Aku benci sama kamu! “ Jenny berteriak histeris dan mengepalkan kedua tangannya dengan geram.

“ Ya ampun Jenny…! Kamu ini ngapain sih Jen…?! “ Tante Shika berseru kaget melihat sikap Jenny. Jenny yang selalu lemah lembut bisa jadi histeris seperti itu.

“ Jen…aku minta maaf. Aku nggak bermaksud… “

“ Pergi kamu! Aku nggak mau ngelihat kamu! “ Jenny mengangkat tanganya mengisyaratkan Reaza untuk pergi.

“ Jenny! “ Neneknya pun terkesiap.

“ Sebaiknya kita masuk dulu. “ Kakek Musrin langsung tanggap dan mengajak para orang dewasa itu masuk ke dalam rumah dan memberi privasi kepada Jenny dan Reaza.

Setelah mereka bertiga masuk, keheningan melanda. Sebenarnya Jenny pun  sudah hampir masuk ke dalam rumah, tapi Kakek Musrin memandangnya galak dan berkata kalau dia belum menyelesaikan masalahnya dengan Reaza, dia tidak akan boleh masuk sampai pagi.

Dengan bersungut-sungut dan wajah tertekuk, Jenny terpaksa tinggal di luar. Reaza duduk perlahan di sampingnya, tapi Jenny langsung berdiri menjauh.

“ Jen, aku tahu kamu marah sama aku. “

Jenny hanya terdiam dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memalingkan wajahnya. Seakan muak memandang wajah Reaza. Tetapi alasan yang sebenarnya karena dia sangat sedih saat ini jika harus memandang wajah cowok itu.

“ Jen…aku nggak tahu apa lagi yang harus aku lakukan biar kamu bisa memaafkan aku. “ Jenny hanya mendengus dan mencibir.

Reaza menggelengkan kepalanya, antara pasrah dan menyerah, ia maju mendekati Jenny yang herannya kali ini terdiam di tempatnya berpijak. Tidak bermaksud untuk menghindar lagi.

“ Waktu aku dengar kamu akan pergi. Aku takut sekali Jen. Aku takut bahwa aku nggak akan pernah melihatmu lagi. Aku takut kehilangan kamu. Aku sendiri nggak tahu kenapa aku bisa merasa seperti itu. Tapi sekarang aku sadar Jen, kamu sangat berarti buat aku. Kemarahan kamu seperti ini membuatku sedih sekali Jen. Aku berharap kamu bisa memaafkan apapun kesalahanku. Dan asal kamu tahu, aku nggak bermaksud melakukan semua itu. “ Reaza menarik napas.

“ Tadipun aku tidak bermaksud mengendap-endap. Aku berjalan perlahan dan mencoba mendekati rumahmu. Tapi kamu malah jadi salah sangka mengira aku mau menakut-nakuti kamu dan Tantemu. Aku minta maaf Jen. “

“Sekarang semua terserah kamu. Aku akan sangat berterima kasih kalau… “

“ Bisakah aku dapat sedikit privasi disini?! “ Reaza bingung ketika Jenny tiba-tiba berseru dengan berangnya. Ia melihat ke balik bahu Jenny dan dilihatnya Tantenya sedang mengintip dan menguping di balik jendela.

Tante Shika yang merasa tertangkap basah segera menghilang menyisakan lambaian singkat tirai jendela ruang tamu.

“ Lanjutkan. “ ujar Jenny singkat.

Reaza menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan kata-kata yang sempat menyangkut di tenggorokannya.

“ Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau maafin aku. Kalau nggak juga…terserah kamu lah. Tapi, satu hal yang perlu kamu ingat, aku nggak akan rela kehilangan teman sebaik kamu. “

Reaza berbalik dan mulai berjalan pergi. “ Aku pulang… “ desahnya keras. Suaranya dipenuhi keputus asaan.

Ia melirik sedikit ke belakang melalui bahunya. Dilihatnya Jenny tidak bergeming. Reaza melangkahkan kakinya satu kali. “ Membawa semua harapan…keputusasaan…karena sahabatku tidak akan mau memaafkanku… “

Ia melirik lagi. Kali ini Jenny memandangnya dengan pandang jijik dibuat-buat. “ Walaupun aku sudah menyusun permintaan maaf terbaik yang pernah aku pikirkan… Tetapi dia masih tidak mau memaafkanku. “ Reaza memandang ke arah Jenny dengan mengedip-kedipkan matanya dibuat-buat.

Jenny menyeringai. “ Dimaafkan. “ ujarnya singkat dan berbalik masuk ke dalam rumah. Di belakangnya, Reaza tersenyum tipis.

“ Jenny! “ ia berseru.

Jenny berbalik. “ Apa lagi sekarang? “ Ia mengerang. Hari ini terasa sangat melelahkan untuknya.

“ Besok…aku main ke rumahmu ya? “ Reaza meringis.

“ Terserahlah. “ tawa kecil menghiasi bibir Jenny. Ia melambaikan tangan dan masuk kembali ke dalam rumahnya.

___

untuk part 4 & seterusnya ikuti di abestiahaninil.blogspot.com eah…thank u^^

Satu pemikiran pada “Past Never Hurt (Masa Lalu Tak Pernah Menyakiti) part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s