Past Never Hurt (Masa Lalu Tak Pernah Menyakiti) part 2

THE DARKNESS

The Darkness, julukan 3 orang penguasa sebuah sekolah swasta di Jakarta. Pemimpinnya bernama Zero, anak kelas 3 dengan dua buntut yang setia di belakangnya, Rey, yang juga anak kelas 3 sekaligus otak kriminal, dan Krissie anak kelas 2 sepupu Zero yang bisanya cuma ikut-ikutan.

“ Hei guys! Lagi pada ngapain elo? “ Zero menghampiri anak buahnya yang sedang nongkrong di sudut kantin.

“ Tau nih, lagi bosen. Nggak ada kerjaan. “ Krissie menyeruput lemon tea-nya.

“ Iya nih, cari masalah yuk? “ Zero menimpali.

“ Masalah lagi? Minggu kemarin kan kita udah nyolongin lukisan-lukisannya anak kelas tiga buat lomba? Sampai-sampai garing dijemur di bawah tiang bendera. Kasihan banget kulit gue yang putih mulus ini. “ Rey mengelus kulit tangannya yang memang putih dan mulus terawat sambil menggerutu.

“ Ah, elo nih. Banci! Gitu aja udah rewel? Nggak keren lu! “

“ Sorry deh kalau gue nggak keren kayak elo! “ Rey mencibir. Zero balas mencibir sambil memasang tampang sok keren.

“ Aduh…! sumpah deh, elo pada kekanak-kanakan banget sih? Bisa nggak tenang kayak gue gini? “ Krissie menyibakkan rambut pendek ikalnya yang dihiglight ungu dengan gaya sok ngegenk.

“ Alah…anak kecil! Kebanyakan gaya lu! “ Zero menonyor kepala Krissie. Bagi anak SMA memang tubuh Krissie tergolong mungil. Dengan tinggi hanya 158, gayanya selangit. Membuatnya sering jadi bahan olok-olokan Zero.

“ Woi! Rusak rambut gue kena kuman-kuman dari tangan jorok elo nih! Ih…! “ Krissie memonyongkan bibirnya yang mungil.

“ Ya udah nih, ada yang punya ide nggak?! “ kini ganti Rey yang menengahi.

“ Ngerjain orang aja yuk? “ usul Krissie.

“ Boleh juga. Siapa? “ tanya Zero lagi.

“ Si cupu Endra aja tuh! Ketua kelas gue yang culun and banyak gaya! Kemarin gue dikerjain disuruh ngepel di kelas! “ Krissie menggerutu.

“ Bukannya kemarin memang piket elo kan? “ Rey geleng-geleng kepala.

“ Tapi gue nggak terima, Rey! Masa yang lain bisa dapet kerjaan enak-enak, nyapu, menghapus papan tulis, lah gue?! Harus basah-basah ngepel! Mana pake ngesot-ngesot di lantai lagi! “

“ Emang tampang elo mirip kok. “ celetuk Zero sambil cekikikan.

“ Mirip apa? “ tanya Krissie bego.

“ Suster ngesot. Ha..ha..ha..!! “ Kali ini tawa Zero meledak.

“ Sialan lu! “ Krissie menjitak kepala Zero, mereka saling cubit dan bergumul.

“ Woi! Stop, stop! Kalian ini, kayak anak kecil banget sih?! Jaga image dong! Lagian, elo juga Kris, elo kan emang nggak pernah piket. Pantes aja elo langsung dikasih kerja berat gitu. “

“ Eh…bukan itu aja, Rey! Mentang-mentang gue…ehem! pendek, kemarin waktu olahraga basket, gue nggak dimasukkin tim. Sedangkan tim lain udah penuh. Waktu guru gue tanya ke Endra kenapa gue nggak dimasukkin timnya yang masih kurang anggota, eh, dia ngamuk-ngamuk. Masa’ katanya gini, ‘ Lho pak, Saya nggak mau dong tim saya kalah cuma gara-gara dia nggak bisa masukkin bola. ‘ “ Krissie menggerutu dan menyerocos panjang lebar sampai mulutnya keriting.

“ Ha…ha…ha…! Hmpfh! “ Zero dan Rey menahan tawa.

“ Sialan elo pada. Gue ketiban musibah bukannya pada kasihan malah diketawain! “

“ Oke deh, ehem! Hmpfh! Gue setuju. Terus, gimana nih caranya? “ Zero mati-matian menahan tawa karena takut Krissie ngambek.

“ Gue ada ide. “ Akhirnya, Rey si otak kriminal beraksi. Mereka bertiga saling berbisik-bisik kemudian menyeringai kejam sebelum akhirnya tawa jahat yang bikin bulu kuduk merinding terdengar ke seluruh penjuru kantin.

Langsung saja seisi kantin kehilangan nafsu makan mereka. Bahkan ada yang muntah-muntah di tempat sampah. Eeuuyy…

___

“ Hei Dra…? Sendirian aja? Ikut gue yuk… “ Zero merangkul pundak seorang cowok cupu dengan rambut klimis, sampai Zero penasaran pengen bertanya, seberapa banyak jelantah, eh, Gel yang dipake.

Wajah cowok itu memang khas cowok-cowok culun gitu deh, model rambut belah tengah, kacamata pantat botol, jerawat bertengger disana-sini. Yuck! Muka berminyak, seragam kedodoran dan celana berikat pinggang hampir di atas perut. Hii….

“ Lho? Hai Zero? Ada angin apa nih elo ngajak gue barengan? “ Endra yang memang gampang GR langsung kesenengan dihampiri salah satu cowok populer di sekolahnya.

“ Ng…gimana ya bilangnya? Gue baru nyadar aja kalau…emm…tampang elo lumayan juga buat masuk The Darkness. Otak elo juga…lumayan lah… Bisa buat tambah-tambah ide. “ Zero melancarkan serangan.

“ Bener, Zer?! “ Endra langsung terlonjak kegirangan. Memang udah banyak siswa siswi yang kepengen gabung sama genk itu. Walaupun mereka terkenal bandel, tapi mereka juga seru. Apalagi personilnya keren-keren. Tapi sampai saat ini, belum ada sejarahnya The Darkness nambah anggota baru. Dan begitulah begonya si Endra langsung percaya begitu saja.

“ Jangan seneng dulu elo. Elo kan juga harus dites. “

“ Tes apa? “

“ Makanya elo ikut gue dulu. “ Zero yang merasa bahwa rencana mereka akan berjalan lancar menyibakkan rambutnya yang pirang kecoklatan dan jabrik itu ke belakang. Pandangan matanya yang tajam dan dingin melirik sinis ke setiap orang yang dilewatinya. Yup! Walaupun dia dinobatkan sebagai most wanted guys di sekolahnya, itu tak dapat meruntuhkan sikap cool dan sinisnya ke setiap orang.

Endra melirik kagum pada idolanya yang tak pernah dibayangkannya akan berjalan di sampingnya seperti ini. Zero memang sangat mencolok, telinganya ditindik dua di sebelah kiri. Tangan kanannya memakai handband merah bergaris hitam, miliknya yang sangat berharga, pemberian dari seseorang yang pernah menguasai hatinya.

Lehernya pun diganduli dua kalung perak berliontin kunci.

Dengan gaya coolnya, Zero memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil mengunyah permen karet dan menggiring Endra menuju toilet cowok di pojok taman belakang sekolah yang memang jarang didatangi orang.

Disana sudah menunggu Krissie dan Rey di depan salah satu toilet. Oh iya, penampilan Krissie dan Rey juga tak kalah sangar. Seragam Krissie menempel pas di tubuhnya, kemeja putihnya dikeluarin. Dan rok kotak-kotak hitam putihnya dibuat bawah pinggang. Tiga tindikan di telinga kiri dan dua tindikan di telinga kanan membuat siapapun merasa takut untuk mendekatinya. Padahal Krissie juga ramah ke orang yang nggak cari masalah sama dia.

Rey beda lagi. Dia polosan, alias tanpa aksesoris dan embel-embel lain. Kancing kemejanya terbuka seperti Zero dan lengannya disingsingkan ke atas memperlihatkan otot-ototnya yang menonjol. Celananya pun tak kalah keren, dibuat bawah pinggang dengan ikat pinggang coklat besar. Rambutnya dicat coklat kehitaman membingkai wajahnya yang putih dan halus. Bibirnya yang merah muda dan tipis itu terlihat menggoda ditambah hidung mancungnya yang aduhai.

Bisa dibilang Rey adalah pangerannya SMA Prima Swasta itu. Krissie dan Zero bagaikan bodyguard sang pangeran. Pokoknya, kalau tiga orang itu udah jalan barengan. Nggak bakal ada yang berani menghalangi jalan atau mereka bakal ditendang sama Zero.

Beda dengan kedua temannya. Tampang Rey yang lembut dan sikapnya yang gentleman membuatnya tak pantas menyandang gelar cowok bandel.

Rey dan Krissie sudah memasang tampang palsu dan tersenyum menyeringai menyambut kedatangan Endra.

Sampai di depan pintu toilet itu, Rey membuka pintu toilet dengan satu gerakan tangan yang halus, dan tiba-tiba saja Zero menendang punggung Endra membuatnya jatuh terjerembap di lantai toilet yang lembab dan kotor.

“ Met tidur disitu, my little angel. “ Krissie memberi cium jauh sambil mengedipkan sebelah matanya. Sebenarnya dia kelihatan imut sekali saat itu, tapi semua tertutupi dengan senyum iblisnya sebelum ia menutup pintu toilet dan menguncinya dari luar dengan kunci hasil colongan mereka dari penjaga sekolah.

“ Siip…! “ Mereka bertiga tersenyum puas dengan hasil kerja mereka dan saling bertos ria.

Bruk!! Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh suara sesuatu terjatuh. Serentak mereka menoleh ke arah datangnya suara itu.

“ Woi! Berhenti elo! “ Zero mengejar seorang cewek berambut panjang dikucir kuda. Cewek itu panik dan berusaha bangkit, ia hampir melarikan diri. Tapi, zero keburu menarik kucir kudanya hingga cewek itu terjatuh ke belakang menindih tubuh Zero.

Dengan panik, si cewek bangkit dan terbelalak menatap Zero. “ Apa yang elo lakuin? “ tanyanya gugup.

“ Eh…elo Sa? Heh! Harusnya gue yang tanya, ngapain elo disni?! Emang kerjaan elo tuh ngintip plus nguping omongan orang ya?! “ Bentak Zero garang.

“ Gue akan bilang ke guru apa yang udah elo lakuin ke Endra! “ Sasa berseru berani walaupun sebenarnya kakinya sudah gemetar ketakutan.

“ Coba aja kalau elo punya nyali. “ Zero menatapnya dingin dan maju satu langkah hingga wajahnya tinggal beberapa senti dari wajah Sasa. Sasa sempat mencium arom mint dari mulutnya.

“ Kalau elo berani bilang ke siapa-siapa soal ini, elo bakal nyesel udah dilahirin! “ Zero tambah ganas.

“ Sabar man…sabar… “ tiba-tiba Rey sudah ada di belakang Zero dan mengelus-elus pundak Zero yang hampir beralih rupa ke wujud aslinya, Si Iblis.

“ Oh…ternyata ada Sasa nih…? “ dengan kurang ajarnya ketiga setan itu mengelilingi Sasa yang sudah meringkuk tak berdaya.

“ Eh, Nona manis, ingat ya, jangan bilang siapa-siapa… “ Rey menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah Sasa seraya mendendangkan lagu lawas ‘Ratu’.

Sasa hanya bisa terdiam, air matanya sudah di pelupuk mata dan siap tumpah. Tampaknya Rey menyadarinya. Ia pun segera menarik Zero dan Krissie untuk meninggalkan Sasa.

‘ Jangan bilang siapa-siapa… ‘ tiba-tiba dalam sekejap lagu favorit Sasa seakan berubah menjadi senandung kematian baginya.

___

Di rumah Sasa malam itu terdengar bunyi-bunyian aneh tak berwujud. Seekor kucing yang kebetulan melintas di depan rumah besar itu memekik kaget dan mendirikan seluruh bulunya saat terdengar bunyi piring pecah atau benda apapun yang bisa menimpulakn bunyi gedubrak krompyang yang amat dahsyat.

“ Dasar…!! Si gila Zero bikin kesel aja!!! “ Sasa membanting bantal gulingnya yang sejak tadi dipakainya bergulat hingga mengenai pigura besar yang berisi foto keluarganya yang langsung jatuh dan pecah. Ternyata itulah suara yang tadi didengar si kucing.

“ Ups! “ Sasa menutup mulut panik. Tapi, itu hanya sementara saja sebelum ia kembali melanjutkan aksinya menghancurkan kamar.

“ Brengsek…!! Sialan elo Zero…! “ Sasa mencak-mencak di atas tempat tidurnya yang langsung hancur berantakan.

“ Sayang…?! Kamu masih waras kan…?! “ lengking suara Maminya mengalahkan suara musik rock yang meraung keras dari stereo besar di kamar Sasa.

“ Yes Mami…!! “ Sasa balas berteriak.

“ Oke…! Have fun sayang…! “ Mami Sasa melanjutkan kegiatanya membuat makan malam yang terlambat akibat keasyikannya mengobrol sama ibu-ibu di acara arisan sore tadi.

“ Zero brengsek! Mati aja lu! Gue nggak butuh lu hidup! Nggak ada gunanya elo hidup! Menuh-menuhin bumi aja! Sialan lu! “ Sasa baru saja mencapai lengkingan tertingginya dari lagu yang baru saja diciptakannya. “ Hiiyyaaatt….!!! “ Gedubrak!

Sebuah kursi sekali lagi menjadi korban kebrutalan Sasa. Tanpa ia sadari, seorang cowok sedang senyum-senyum sendiri di jalanan depan rumah rumahnya mendengar jerit caci maki Sasa.

“ Sayang…?! Makan malam udah siap…! “ kayaknya Mami Sasa memang gaptek. Padahal udah ada interkom yang dipasang dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain dan siap digunakan. Tapi kenapa Mami Sasa lebih suka mengumandangkan suaranya bak seorang penyanyi opera.

“ Beres Mi…! “ Sasa yang lebih paham teknologi canggih yang belum dimanfaatkan memencet tombol interkom berbicara pada Maminya.

“ Mi, masih ingat Zero nggak? “ tanya Sasa di tengah-tengah suapan cumi saus tiramnya.

“ Emm…mantan pacar kamu waktu SMP dulu ya? “

“ Idih mami! Ngapain sih masih ingat-ingat itu aja?! “ Sasa menusukkan garpunya keras-keras ke piring.

“ Lho? Bukannya kamu yang suruh Mami ingat-ingat lagi? “

“ Iya, tapi kan nggak usah sebut-sebut mantan pacar segala kali…! “

“ Oke, oke, Zero. Jadi…ada apa? “

“ Ng… “ Sasa ragu untuk menceritakan soal tadi pada Maminya.

“ Ada apa sih sayang? Mami tahu kok kamu lagi ada masalah. “ Maminya menggenggam tangan Sasa memberi dukungan.

Akhirnya, Sasa menceritakan apa yang telah terjadi di sekolahnya tadi siang. Maminya hanya mengangguk-angguk mendengarkan tanpa maksud menyela.

“ Jadi…gitu deh. Terus…Sasa bingung. Mending Sasa kasih tahu ke guru atau nggak ya? “

“ Kamu jahat kalau kamu nggak cerita soal ini ke guru kamu, sayang. “

“ Ah…Mami. Sasa kan takut! Waktu pulang sekolah tadi aja Sasa hampir disrempet Zero pakai motornya yang super gede itu. “

“ Kenapa sih kok Zero jadi jahat gitu ke kamu? Padahal dulu dia anak baik kan? “

“ Ng…kalau itu sih… “ Sasa enggan meneceritakan apa saja yang telah terjadi hingga Zero menjadi musuhnya sekarang.

“ Tapi, coba kamu bayangin, sekarang temen kamu Endra itu mungkin masih ada di dalam toilet yang gelap, kedinginan dan ketakuan. Belum lagi kalau toiletnya… ih…jijik! “

“ Ha…ha…ha…!! “ Mereka berdua malah tertawa terbahak-bahak membayngakan malam ini Endra tidur di toilet yang penuh tinja. Dasar Ibu anak kejam.

“ Yah…besok pagi deh Mi, Sasa bilang ke guru. “

“ Ya udah, cepet selesaiin makan kamu. Besok kamu harus bangun lebih pagi buat ngasih tahu guru kamu. “ Sasa mengangguk. Heran juga, bukankah lagi ada orang teraniaya semalaman di toilet? Tapi, kenapa mereka malah dengan santainya bicara begitu? Cape deh…!

___

“ Ng…gimana nih? Mm…apa aku harus bilang ke guru? “ Sasa mendesah-desah dan menggumam sendiri di tempat duduknya.

“ Hei Sa! “ Tiba-tiba seseorang memukul pundak Sasa dari belakang. Sasa menoleh dan melihat Krissie menyeringai lebar.

“ Hah?! Nggak! Gue nggak bilang siapa-siapa kok! “ Sasa yang terkejut berkata terbata-bata.

“ Ingat ya…? Jangan bilang siapa-siapa…! Ha…ha…ha…! “ Krissie tertawa keras melihat ekspresi Sasa yang lucu karena ketakutan dan berbalik menuju bangkunya.

Sasa merinding mendengar tawa Nenek lampir ala Krissie. “ Tapi…gue memang nggak bisa membiarkan kebohongan ini. Gue harus bilang sama Pak Reza. Tapi..kalau gue beneran dihajar gimana? Aduh…! itu urusan nanti deh! Bodo amat! “ Sasa beranjak dari tempat duduknya dan menoleh ke kanan kiri. Setelah memastikan bahwa Krissie sudah tak tampak lagi, ia berlari terbirit-birit menuju ruang BK.

“ Pak…! Pak Reza…!! “ Dengan napas tersengal-sengal Sas amenoleh kesana kemari mencari sosok Pak Reza di ruangan yang sepi itu.

“ Sasa? Ada apa? “ Tiba-tiba Pak Reza muncul dari balik meja kerjanya.

“ Lho Pak? Ngapain ngumpet di bawah meja? “ Sasa hanya berdiri melongo, sejenak lupa akan kepanikannya.

“ Oh…itu? Mm…Saya sedang mencari permen saya yang baru jatuh. Untung belum kotor. Belum lima menit. “ Hap! Pak Reza melahap sebutir permen yang…eeuuyy…baru jatuh ke lantai kantor yang kotor.

“ Ah, whatever deh! “ Sasa mengibaskan tangannya tanda tak peduli.

“ Oh iya, ad apa kamu mencari saya? Kangen ya…? “ dengan PD-nya Pak Reza menyibakkan rambutnya ke belakang.

“ Wooeekkss! You wish… “ bisik Sasa lirih.

“ Apa? “

“ Oh…nggak pak! Oh iya! Itu pak, anu…anu…anu…itu lho pak! “ Sasa langsung teringat tujuannya semula dan mulai panik lagi.

“ Ha?! Anunya siapa?! “

“ Aduh…! Bapak! Saya nggak sedang bercanda! “ Seru Sasa gemas.

“ Saya juga nggak bercanda kok. “ Pak Reza terkekeh ringan.

“ Ya ampun…Cape deh! Pak, Zero dkk mengurung Endra di toilet Pak! Sudah sejak kemarin. “ Sasa mencak-mencak panik.

“ Oh…itu? Ah, sudah basi. “ Pak Reza mengibaskan tangan menganggap itu hal yang tidak penting.

“ Jadi, Endra sudah dikeluarkan pak?! “ Sasa berseru lega.

“ Apa?! Endra?! Kenapa?! Ada apa ini?! Ada apa?! “ kali ini ganti Pak Reza yang panik.

“ Ya ampyun…! Dari tadi tuh nyambung nggak sih?! “ Sasa berteriak jengkel. Kadang-kadang gurunya yang satu ini emang telmi.

“ Ya udah! Ayo cepat kita kesana! Let’s go! Come on girl! “ Sasa hanya geleng-geleng kepala dan mengikuti gurunya yang bergegas menyelamatkan Endra.

“ Mari pak! Ikut saya! “ Sasa membimbing Pak Reza.

“ Baiklah dinda, kemanapun dikau pergi, kakanda akan setia mengikuti! “ Pak Reza berteriak dramatis. Maklum…mantan pemain teater. Beberapa siswa yang kebetulan lewat hanya cekikikan menahan geli.

Tak lama kemudian, mereka sampai di TKP dan segera mendobrak pintu toilet. Brak!! Lagaknya seperti superhero, Pak Reza menginjak pintu toilet yang ambruk dan berkacak pinggang.

“ Endra! Endra! “ Mereka berdua berteriak memanggil nama Ednra.

“ Kemana gerangan dirinya? “ Pak Reza dan Sasa kebingungan mendapati toilet yang kosong.

“ Uh… “ terdengar rintihan seram.

“ Waa!! Pak Reza, apa itu pak?! “ Sasa melonjak kaget.

“ Kakanda juga tak tahu dinda, mungkinkah itu suara penghuni toilet yang marah karena toiletnya didobrak? “ Pak Reza dan Sasa saling berpelukan dan gemetar ketakutan.

“ Uh….aduh…! bego…tolol… “

“ Wah pak! Kayaknya kita mau dikutuk tuh! “ Sasa semakin ketakutan.

“ Bego elo pada…!! gue dibawah sini tauk! “ mau tak mau Pak Reza dan Sasa menengok ke bawah. Ke arah pintu kamar mandi yang mereka pijak.

“ Endra?!! “ Mereka berdua segera melompat turun dari atas pintu itu, atau tepatnya tubuh Endra yang hampiri gepeng kehimpit pintu.

“ Anakku malang…! Siapa yang tega melakukan semua ini padamu nak…! “ Pak Endra mulai sok dramatis lagi.

Sasa dan Endra mendengus kesal dan berkata berbarengan, “ Bapak kan?! “

“ Sorry deh bro…sorry… gue kan nggak sengaja man… “ kali ini Pak Reza sok gaul. Sasa yang memang sudah muak segera membantu Endra berdiri.

“ Uuhkk..! Bau! “ Sasa melepaskan tubuh Endra yang sudah setengah berdiri hingga terjatuh lagi di lantai kamar mandi yang becek.

“ Hooeekkss! “ Pak Reza juga pengen muntah.

“ Bau apaan sih ini? Busuk banget?! “ Sasa berkata sambil menjepit hidungnya dengan tangan, begitu pula Pak Reza.

“ He…he… sorry deh. Toiletnya mampet. Jadi terpaksa gue… “

“ What?!! “ Pak Reza dan Sasa langsung lari terbirit-birit.

“ Guys…! tungguin gue dong… aduh! “

___

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s