Makalah Psikologi Remaja

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.     Latar Belakang

Dewasa ini tidak jarang kita temui remaja-remaja yang mengalami gangguan psikologis yang menghambat perkembangan remaja tersebut. Hal ini tentulah suatu hal yang perlu diatasi dan perlu mendapat tinjauan lebih lanjut.

Gangguan pada remaja ini terutama disebabkan oleh pengaruh psikologis. Dimana seorang remaja mengalami hambatan dalam mengembangkan kepribadiannya.

Badan Kesehatan Dunia menyebutkan seperlima dari penduduk di dunia adalah remaja, dengan 900 juta penduduk remaja berada di negara yang sedang berkembang dengan 20 persennya berada di Indonesia. Jumlah remaja di Indonesia adalah sekitar 35,8 persen dari jumlah populasi penduduk di Indonesia.

Masa remaja merupakan masa mencari jati diri. Artinya pada remaja suka melihat permasalahan dengan menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.

Perilaku remaja tersebut sangat beresiko, misalnya masalah kesehatan. Karena itu, peran orangtua tetap penting sebagai pengawas mereka.

Menurut WHO, remaja adalah saat anak mencapai usia 10-19 tahun; sedangkan menurut Undang-undang kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah.

Perubahan yang terjadi pada remaja adalah perubahan fisik dan perubahan psikologis, yakni adanya penambahan jumlah hormon pada anak laki-laki dan perempuan. Selain itu, terdapat pula perubahan pada psikoseksualnya yakni dorongan seks atau orientasi seksual. Terjadi pula perubahan kognitif dan kepribadian seperti perkembagan moral, etika, atau masalah kemanusiaan lainnya.

Faktor lingkungan inilah yang menjadikan meningkatnya kerawanan pada anak dan yang diresahkan orangtua karena saat anak remaja mereka lebih mendengarkan peer-groupnya (kelompok sebayanya).

Masalah remaja dapat digolongkan menjadi masalah fisik dan masalah perilaku (psikososial) di rumah sekolah, di jalan atau di tempat-tempat lain. Gangguan fisik yang sering dialami remaja di antaranya masalah gizi seperti anemia atau obesitas, atau masalah pubertas dini atau terlambat.

Berdasarkan survei pada 2001 didapatkan sekitar 26 peren remaja mengalami anemia. Hal ini bisa membuat anak memiliki kecerdasan yang rendah, prestasi di sekolah menurun, gangguan perilaku serta ganggguan keterampilan dalam memecahkan masalah.

Sementara itu, masalah perilaku yang perlu diwaspadai adalah saat anak tersebut melakukan perilaku beresiko tinggi, secara perorangan atau berkelompok, di antaranya masalah narkotik dan zar adiktif lain (Napza), merokok, sampai pada masalah perilaku yang berdampak pada kecelakaan lalu lintas, kawin muda, serta aborsi.

Berdasarkan data dari PBB, lebih dari 2000 anak meninggal dunia setiap hari karena kecelakaan lalu lintas. Sedangkan menurut laporan global WHO dan UNICEF, setiap tahun 830.000 anak sehingga remaja usia 19 tahun tewas akibat berbagai kecelakaan.

Terjadinya remaja bermasalah sering disebabkan oleh, keinginan remaja yang tidak sesuai dengan orang tua, guru, teman, aturan hukum, serta moral agama.

 

  1. B.     Rumusan Masalah
  • Apa yang dimaksud dengan gangguan Psikologi remaja?
  • Gangguan apa yang paling sering dialami oleh remaja kebanyakan?
  • Apa saja penyebab-penyebab gangguan tersebut?
  • Bagaimana cara mengatasi gangguan psikologi pada remaja?
  • Apakah kasus Kepribadian ganda benar-benar ada?

 

  1. C.     Tujuan
  • Mengetahui apa yang dimaksud dengan gangguan psikologi remaja.
  • Mengetahui gangguan yang paling sering dialami oleh remaja kebanyakan.
  • Mengetahui dan memahami penyebab-penyebab gangguan tersebut.
  • Mengetahui dan memahami cara mengatasi gangguan psikologi pada remaja.
  • Mengenal kasus Kepribadian ganda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Pengertian Masalah Psikologis

Masalah psikologis atau sering disebut dengan gangguan kesehatan jiwa dalam taraf ringan mungkin pernah kita alami di kehidupan kita. Mungkin kita tidak menyadari dan tidak berusaha untuk mengatasinya karena menganggap ringan.

Memang masalah psikologis yang tarafnya masih ringan seperti : rendah diri, rasa kuatir yang berlebihan, merasa bersalah, kurang percaya diri, mudah marah-marah, mudah tersinggung, putus asa, hendaknya jangan dianggap ringan.

Sebaliknya harus segera diatasi sebelum menjadi berlarut-larut dan kompleks yang mengakibatkan kondisi kesehatan jiwa terganggu.

Remaja yang mengalami masalah psikologis atau gangguan kesehatan jiwa pada taraf ringan (neurose) tidak menunjukkan gejala yang aneh. Ia masih dapat berfikir, berkata-kata dan bertindak, berkomunikasi dengan orang lain secara baik dan normal. Sebaliknya remaja yang mengalami gangguan jiwa (psychose), atau gangguan jiwa yang berat, kepribadiannya jauh dari realitas. Segi tanggapan, perasaan, emosi sangat terganggu, tidak ada integritas dan ia hidup dari alam kenyataan.

 

Macam-macam masalah Psikologis :

Masalah psikologis dijeniskan antara lain sebagai berikut :

  1. Neurose atau gangguan jiwa pada taraf ringan seperti :

Ketegangan batin, rendah diri, rasa kuatir yang berlebihan, gelisah/cemas, takut yang tidak beralasan, mudah tersinggung, putus asa, pikiran-pikiran buruk, mudah marah, mudah merasa bersalah dan sebagainya.

  1. Psychose atau gangguan jiwa pada taraf yang berat seperti :

Histeria, kepribadian dari segala segi, seperti tanggapan perasaan/emosi terganggu, tidak ada integritas, hidup jauh dari alam kenyataan.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu, yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.

Ciri-ciri masa remaja

Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terajadi perubahan yang cepat, baik secara fisik maupun psikologis.

 

  1. B.     Beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja
    1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa storm and stressm. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja.
    2. Perubahan yang cepat secara fisik juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi sangat cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
    3. Perubahan alam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada msa remaja. Maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih positif. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama. tetapi juga dengan lawab jenis dan dengan orang dewasa.
    4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati masa dewasa.
    5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut. Serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

 

 

  1. C.     Beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu :
    1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
    2. Ketidakstabilan emosi
    3. Adanya perasaan kosong saat perombakan pandangan dan petunjuk hidup
    4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
    5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentangan dengan orang tua.
    6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
    7. Senang bereksperimentasi
    8. Senang bereksplorasi
    9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
    10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok

 

 

  1. D.     Kepribadian Ganda

Sebelum abad ke-20 gejala psikologi ini selalu dikaitkan dengan kerasukan setan. Namun, para psikolog abad ke-20 yang menolak kaitan itu menyebut fenomena ini dengan sebutan Multiple Personality Disorder (MPD). Berikutnya, ketika nama itu dirasa tidak lagi sesuai, gejala ini diberi nama baru, Dissociative Identity Disorder (DID).

DID atau kepribadian ganda dapat didefiniskan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda.

Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.

Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para psikolog sepakat kalau penyebabnya kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil.

Untuk memahami bagaimana banyak identitas bisa terbentuk di dalam diri seseorang, maka terlebih dahulu kita haris memahami arti dari disosiasi (Dissociative).

Disosiasi

Pernahkah kalian mendapatkan pengalaman seperti ini : ketika sedang bertanya mengenai sesuatu hal kepada sahabat kalian, kalian malah mendapatkan jawaban yang tidak berhubungan sama sekali.

Jika pernah, maka saat itu kalian akan berkata “ Nggak nyambung! “

Dissosiasi secara sederhana dapat diartikan sebagai terputusnya hubungan antara pikiran, perasaan, tindakan dan rasa seseorang dengan kesadaran atau situasi yang sedang berlangsung.

Dalam kasus DID juga terjadi disosiasi. Namun jauh lebih rumit dibanding sekedar “ Nggak nyambung “.

 

Proses terbentuknya kepribadian ganda

 

Ketika kita dewasa, kita memiliki karakter dan kepribadian yang cukup kuat dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Namun, pada anak-anak yang masih berusia dibawah tujuh tahun, kekuatan itu belum muncul sehingga mereka akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap sebuah pengalaman traumatik, yaitu dengan disosiasi.

Dengan menggunakan cara ini, seorang anak dapat membuat pikiran sadarnya terlepas dari pengalaman mengerikan yang menimpanya.

Menurut Colin Ross yang menulis buku The Osiris Complex (1995), proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Kita akan mengambil contoh pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan.

Pertama-tama anak perempuan yang berulang-ulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa, ia bisa mengalami “ Out of body experience “ yang membuat ia “ terlepas “ dari tubuhnya dan dari pengalaman traumatis yang sedang berlangsung. Ia mungkin bisa merasakan rohnya melayang hingga ke langit-langit dan membayangkan dirinya sedang melihat kepada anak perempuan lain yang sedang mengalami pelecehan seksual. Dengan kata lain, identitas baru yang berbeda telah muncul.

Proses kedua, sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak perempuan itu dengan identitas baru yang telag diciptakan.

Sekarang, sebuah kesadaran baru telah terbentuk. Pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi padanya dan ia tidak bisa mengingat apapun mengenainya.

Apabila pelecehan seksual terus berlanjut, maka proses ini akan terus menerus berulang sehingga ia akan kembali menciptakan sebanyak mungkin identitas baru untuk mengatasinya. Ketikan kebiasaan disosiasi ini telah mendarah daging, sang anak juga akan menciptakan identitas baru untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengalaman traumatis seperti pergi ke sekolah dan bermain bersama teman.

Salah satu kasus kepribadian ganda yang ternama yaitu Sybil, disebut memiliki 16 identitas yang berbeda.

Menurut psikolog, jumlah identitas berbeda ini bisa lebih banyak pada beberapa kasus. Bahkan hingga mencapai 100. Masing-masing identitas itu memiliki nama, umur, jenis kelamin, ras, gaya, cara bicara dan karakter yang berbeda.

Setiap karakter ini bisa mengambil alih pikiran sang penderita hanya dalam tempo beberapa detik. Proses pengambilalihan ini disebut switching dan biasanya dipicu oleh beberapa kondisi stres.

 

Ciri-ciri pengidap kepribadian ganda

 

Ketika membaca paragraf-paragraf diatas mungkin kalian segera teringat dengan salah seorang teman sekolah yang suka mengubah-ubah penampilannya. Bagi kalian, sepertinya ia memiliki identitas yang berbeda.

Atau mungkin kalian teringat dengan salah seorang teman kalian yang biasa tersenyum. Namun tiba-tiba dikuasai emosi. Ketika amarahnya meledak, kalian bisa melihat wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti “ srigala “. Bagi kalian, sepertinya identitas baru yang penuh amarah telah menguasainya.

Apakah mereka pengidap DID? Bagaimana cara kita mengetahuinya?

Jawabannya adalah pada identitas yang menyertai perubahan penampilan atau emosi tersebut.

Misalkan teman kalian yang suka mengubah penampilan atau sering mengalami perubahan emosi dan masih menganggap dirinya sebagai dirinya sendiri, maka ia bukanlah penderita DID.

Untuk mengerti lebih dalam bagaimana cara membedakannya, ada empat ciri yang bisa dijadikan indikator. Jika seseorang mengalami seperti yang ada dalam ciri-ciri tersebut maka bisa dipastikan ia adalah seorang  pengidap DID.

Ciri-ciri tersebut adalah :

  1. Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
  2. Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (switching)
  3. Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yag terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.
  4. Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dan substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.

Dari empat poin ini. Poin nomor 3 memegang peranan sangat penting.

98 persen mereka yang megidap DID mengalami amnesia ketika sebuah identitas muncul (switching). Ketika kepribadian utama berhasil mengambil alih kembali, ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi ketika identitas sebelumnya berkuasa.

Walaupun sebagian besar psikolog telah mengakui adanya kelainan kepribadian ganda ini, namun sebagian lainnya menolak mengakui keberadaannya.

Mereka mengajukan argumennya berdasarkan pada kasus Sybil yang ternama.

Kasus Sybil Isabel Dorsett

Salah satu kasus paling terkenal dalam hal kepribadian ganda adalah kasus yang dialami oleh Shirley Ardell Mason. Untuk menyembunyikan identitasnya, Cornelia Wilbur, sang psikolog menggunakan nama samaran Sybil Isabel Dorsett untuk menyebut Shirley.

Dalam sesi terapi yang dilakukan oleh Cornelia, terungkap kalau sybil memiliki 16 kepribadian yang berbeda. Diantaranya adalah Clara, Helen, marcia, Vanessa, ruthi, Mike (pria) dan lain-lain. Menurut Cornelia, 16 identitas yang muncul pada diri Sybil berasal dari trauma masa kecil akibat sering mengalami penyiksaan oleh Ibunya.

Kisa Sybil menjadi terkenal karena pada masa itu kelainan ini masih belum dipahami sepenuhnya. Bukunya menjadi best seller pada tahun 1973 dan sebuah film dibuat mengenainya.

Namun pada tahun-tahun berikutnya, keabsahan kelainan yang dialami Sybil mulai dipertanyakan oleh para psikolog.

Menurut Dr. Herbert Spiegel yang juga menangani Sybil. 16 identitas yang berbeda tersebut sebenarnya muncul karena teknik hipnotis yang digunakan oleh Cornelia untuk mengobatinya. Bukan hanya itu, Cornelia bahkan menggunakan Sodium Pentothal (serum kejujuran) dalam terapinya.

Dr. Spiegel percaya kalau 16 identitas tersebut diciptakan oleh Cornelia dengan menggunakan hipnotis. Ini sangat mungkin terjadi karena Sybil ternyata seorang yang sangat sugestif dan gampang dipengaruhi. Apalagi ditambah dengan obat-obatan yang jelas dapat membawa pengaruh kepada syarafnya.

Pendapat Dr.Spiegel dikonfirmasi oleh beberapa psikolog dan peneliti lainnya.

Peter Swales, seorang penulis yang pertama kali berhasil mengetahui kalau Sybil adalah Shirley juga setuju dengan pendapat ini. Dari hasil penyelidikan intensif yang dilakukannya, ia percaya kalau penyiksaan yang dipercaya dialami Sybil sesungguhnya tidak pernah terjadi. Kemungkinan semua ingatan mengenai penyiksaan itu (yang muncul karena sesi hipnotis) sebenarnya hanyalah ingatan yang ditanamkan oleh sang terapis, Cornelia Wilbur.

Jadi bagi sebagian psikolog, DID ini hanyalah sebuah false memory yang tercipta akibat pengaruh terapi hipnotis yang dilakukan oleh seorang psikolog. Tidak ada bukti kalau pengalaman traumatis bisa menciptakan banyak identitas baru di dalam diri seseorang.

Dengan kata lain, kasus Sybil hanyalah sebuah false memory. Maka runtuhlah seluruh teori dissosiasi dalam hubungannya dengan kelainan kepribadian ganda. Ini juga berarti kalau kelainan kepribadian ganda sesungguhnya tidak pernah ada.

Perdebatan ini masih terus berlanjut hingga saat ini dan kedua pihak memiliki alasan yang sama kuat. Jika memang DID benar-benar ada dan hanya merupakan gejala psikolog biasa, mengapa masih ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan oleh para psikolog?

Misteri dalam DID

Misalnya ketika sebuah identitas muncul, perubahan biologis juga muncul di dalam tubuh sang pengidap. Kecepatan detak jantungnya bisa berubah. Demikian juga suhu tubuhnya, tekanan darah dan bahkan kemampuan melihat.

Lalu identitas yang berbeda bisa memiliki reaksi yang berbeda terhadap pengobatan. Kadang pengidap yang sehat bisa memiliki identitas yang alergi. Ketika identitas itu menguasainya. Ia benar-benar akan menjadi alergi terhadap substansi tertentu.

Lalu, misteri lainya yang mengangkut kasus Billy Miligan yang dianggap kasus DID yang paling menarik.

Billy adalah seorang mahasiswa yang dihukum karena memperkosa beberapa wanita. Dalam sesi pemeriksaan kejiwaan, ditemukan 24 kepribadian yang berbeda di dalam dirinya.

Identitas yang mengaku bertanggung jawab atas tindakan pemerkosaan itu adalah seorang wanita. Identitas lain bernama Arthur yang merupakan orang Inggris dan memiliki pengetahuan luas.

Dalam Interogasi, Arthur ternyata bisa mengungkapkan keahliannya dalam hal medis. Padahal Billy tidak pernah mengalami soal-soal medis. Menariknya, Arthur ternyata lancar berbahasa Arab. Bahasa ini juga tidak pernah dipelajari oleh Billy. Identitas lain bernama Regan bisa berbicara dalam bahasa Serbia Kroasia. Billy juga tidak pernah mempelajari bahasa tersebut.

Sampai saat ini kasus tersebut belum mendapatkan titik terangnya.

 

  1. E.     Pencegahan gangguan psikologis remaja

Dalam mencegah agar jangan sampai anak atau remaja itu mengalami gangguan atau masalah psikologis tentunya ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian yang serius.

Langkah-langkah pencegahan :

  1. Menekankan pengaruh pendidikan terhadap jiwa

Pendidikan dan bimbingan anak diberikan sedini mungkin terutama pendidikan waktu kecil, karena pendidikan itulah yang banyak menentukan hari depan seseorang. Melalui pendidikan dapat tertanam dihati anak sikap-sikap yang baik, seperti sopan santun, budi pekerti yang baik, tata tertib, agama dan sebagainya.

  1. Memberikan pendidikan dalam rumah tangga

Dalam memberikan pendidikan serta bimbingan kepada anak, suasana keluarga yang harmonis hendaknya tercipta, karena dengan adanya kedamaian dalam rumah tangga itu akan menimbulkan ketentraman hati anak. Remaja harus diberikan kepercayaan dalam berbuat dan bersikap, tentunya perbuatan dan sikap tersebut harus dilandasi norma-norma dan agama. Orang tua selalu memberikan contoh perilaku yang baik. Misalnya, saling menyayangi, saling mencintai, perhatian terhadap anggota keluarga, memberikan kesempatan kepada anak yang sedang tumbuh remaja untuk bertukar pikiran/pendapat tentang masalah-masalah apapun kepada Ibu dan Bapaknya.

  1. Pengembangan pendidikan anak di lingkungan sekolah

Sekolah yang disebut juga sebagai lingkugan kedua bagi anak dalam mengembangkan kemampuannya, maka sekolah sangat membantu di dalam pembinaan dan pembimbingan anak.

Di samping itu sekolah juga membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan intelektual mereka sehingga mereka menjadi anak yang pandai dan cerdas.

Hal lain adalah sekolah juga membina kepribadian anak sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan orang tua, sekolah dan masyarakat.

Melalui pengembangan pendidikan di sekolah diharapkan anak/remaja dapat menyalurkan serta mengembangkan minat, bakat dan kemampuannya.

 

BAB III

PENUTUP

 

 

  1. A.     Kesimpulan

Masalah atau gangguan psikologis yang sering dialami oleh para remaja timbul karena kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orangtua pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Juga dimungkinkan karena orangtua terlalu memberikan proteksi/perlindungan yang berlebihan dalam membimbing anak.

Hal ini terlihat dari sikap-sikap para remaja yang mengalami masalah gangguan psikologis, yaitu antara lain: rasa kuatir yang tidak beralasan, rasa takut yang berlebihan, minder/rendah diri, mudah marah, susah bergaul, pemalu, selalu ragu-ragu dalam bertindak, kurang percaya diri, sulit menyesuaikan diri dalam pergaulan, murung, merasa bersalah dan sebagainya.

 

  1. B.     Saran

Banyaknya akibat yang timbul dari masalah gangguan psikologis pada remaja ini tentunya akan berdampak pada masa depan seorang remaja. Karena itu gangguan psikologis pada remaja harus dideteksi sedini mungkin dan sebaiknya segera diatasi. Karena tentunya orangtua manapun tidak menginginkan anaknya memiliki kepribadian yang terganggu.

Selain itu gangguan psikologis inilah yang biasanya mengawali kenakalan remaja pada umumnya. Remaja yang merasa tidak diterima di lingkungan keluarganya akan mencari cara agar dirinya diperhatikan. Ia akan melakukan tindakan-tindakan yang cenderung tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu, peran orangtua sangat besar dalam hal mengawasi dan mengendalikan perilaku anak tetapi dalam batas yang wajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

http://www.insanimj.blogspot.com/

http://www.ibuprita.suatuhari.com/

http://www.unic77.info/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s