Past never Hurt (Masa Lalu tak pernah Menyakiti) part 1

Cowok Sinar Bulan…

Kumpulan awan selembut kapas putih, berarak di langit. Sesekali bayangan awan menutupi matahari yang tengah bersinar terik. Memberikan sejenak kesejukan di bumi. Seorang gadis dengan begitu ceria berlarian di pematang sawah. Hah? Yup! Ini bukan hanya cerita tentang kota-kota metropolitan. Tapi juga tentang pedesaan yang dihiasi dengan gunung dan sungai yang indah. Suara burung yang berkicau di puncak pepohonan, serta langit yang terbentang luas sejauh mata memandang.

Jadi, kalau kalian tidak suka cerita semacam ini, dan hanya suka dengan bagian gadis-gadis glamour, pakaian keren, mobil mewah, dan segala tetek bengek yang serba menyilaukan. Time to go! Letakkan buku ini sekarang juga. Tapi, siap-siap saja ketinggalan cerita seru di paragraf berikutnya. Ini bukan dongeng, bukan juga cerita konyol. Tapi, sebuah cerita tentang kehidupan.

Gadis itu berlarian menuju ke arah Neneknya yang sudah menunggu di bawah sebatang pohon, lengkap dengan tikar dan segala bekal yang dibawanya dari rumah untuk cucu dan suaminya tersayang.

“ Nek…! Lauknya apa nih? “ dengan napas tersengal-sengal dan wajah bercucuran peluh, gadis itu masih bisa-bisanya tersenyum ceria.

“ Nih, ada semur daging kesukaan kamu. “ Nenek Miranda berkata sambil menyodorkan segelas es jeruk segar buatan sendiri.

Gluk, gluk, gluk, si gadis ceria itu menenggak minumannya hingga tinggal setengah gelas. Setelah itu ia mengambil piring dan menyendok dua centong nasi dan 5 sendok semur daging yang baru dilihat saja sudah menggiurkan, saat kita sedang benar-benar lapar.

Gadis itu makan dengan lahap, sebenarnya rakus malahan. Tapi ia tak peduli. Cacing-cacing di perutnya sudah asyik berdemo dan dia tidak mau ada pemberontakan berupa maag di perutnya.

“ Aduh Ndok… mbok ya kalau makan tuh pelan-pelan. “ Neneknya mengingatkan. Tapi dengan cueknya gadis itu menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya yang sudah penuh.

“ Ah, mm…Laper…nih…Umm…tanggung… “ Dengan mulut penuh gadis itu berkata.

“ Biarin aja Nek, ntar kalau keselek baru tahu. “ tiba-tiba Kakek Musrin, suami Nenek Miranda sudah berdiri di belakang mereka sambil memanggul sebuah cangkul yang berlumuran lumpur tanah dan menenteng sebuah caping di tangan kirinya.

“ Uhuk!! “ Panjang umur… baru diomongin gadis itu langsung keselek.

“ Aduh…! tuh kan?! Udah dibilangin juga, bandel! “ Nenek Miranda langsung menyodorkan minuman pada gadis itu.

Selesai makan, gadis itu tidur-tiduran di atas tikar dan bersantai. “ Jen, kamu pengen sekolah lagi nggak? “ tiba-tiba suara Kakek Musrin menyentakkan gadis cantik yang ternyata bernama Jenny itu.

Jennifer Shander, demikianlah nama gadis itu. Namanya mungkin memang terlalu keren untuk seorang bunga desa sepertinya. Tapi, Jenny memang bukan orang desa asli.

Ia ditinggal mati oleh kedua orangtuanya saat ia masih Junior High school. Dan dengan amat terpaksa, ia harus tinggal dengan Kakek Neneknya dari pihak Ibu yang tinggal di Indonesia.

Jenny memang seorang bunga desa. Kulitnya yang putih karena ia kelahiran London, menambah kesan bule kesasarnya. Rambutnya yang berwarna coklat kemerahan dan ikal menggapai punggung benar-benar serasi dengan kulit putihnya yang sama sekali tidak bisa berubah hitam walaupun ia sudah tinggal di Indonesia cukup lama. Hidungnya mancung seperti kebanyakan orang keturunan campuran. Tapi yang paling memberikan nilai tambah untuk Jenny adalah matanya yang berwarna hijau gelap. Sangat meneduhkan setiap orang yang memandang ke dalamnya.

Mommy Jenny memang bukan hanya keturunan Indonesia, Nenek Miranda, Ibunya keturunan Belanda dan Kakek Musrin sendiri keturunan Indonesia. Sedangkan Daddy Jenny keturunan Prancis. Selama ini mereka sekeluarga tinggal di Prancis sampai insiden yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal itu memaksa Jenny menerima keadaan.

“ Mm… kok kakek mendadakk tanya gitu? “ Jenny heran dengan pertanyaan kakeknya. Memang sih ia putus sekolah saat semester limanya di junior High School. Karena ia terpaksa pindah ke Indonesia. Dan ternyata, Kakek dan neneknya tergolong orang yang tidak mampu.

“ Nggak, Kakek cuma pengen tahu saja. “ Kakeknya memalingkan wajah dan memasang sikap tenang walau Jenny tahu ia sedang gelisah.

“ Yah… sebenarnya Jenny sendiri pengen ngelanjutin sekolah. Jenny suka lihat di TV tenatang sekolah-sekolah di Jakarta. Ceweknya cantik-cantik dan sekolahnya juga bagus-bagus, Kek. Rasanya nggak cukup hanya dengan membaca buku pelajaran di rumah. “ Jenny menerawang. Kakek dan Neneknya memang selalu membelikan buku pelajaran untuk Jenny baca di rumah.

“ Kamu bisa seperti itu kalau kamu mau. “ Kakek Musrin menelan ludah.

“ Benar Kek? Bagaimana caranya? “ Jenny terlihat bersemangat.

“ Sudahlah, itu tidak penting. Besok akan ada tamu dari Jakarta. Kamu bangunlah lebih pagi dan bantu Nenekmu ke kebun untuk memetik sayur-sayuran. “ Kakek Musrin bangkit dan mengangkat cangkulnya, bersiap melanjutkan pekerjaannya.

“ Siapa Kek?! “ tanya Jenny penasaran.

“ Sudahlah, itu tidak penting. Pulanglah bersama Nenekmu sebelum tubuhmu gosong. “ Sekali lagi dengan sikap menyebalkan Kakeknya menjawab.

___

Rembulan menyapa malam, saat seorang gadis dengan rambut berkepang satu mendatangi Jenny ke rumahnya.

“ Jen, main  yuk? “ Gadis itu mengajak saat Jenny baru membuka pintu. Memang kebiasaan di dusun-dusun kecil seperti itu bagi anak-anak untuk keluar malam saat bulan purnama dan bermain di tanah lapang.

“ Baiklah. Tapi sebentar saja ya? Aku takuk Kakek dan Nenekku cemas. “ Jenny akhirnya setuju setelah menimbang-nimbang untung dan ruginya. Jenny memang orang yang perhitungan.

“ Kek, Jenny main sama Eky ya? “

“ Jangan pulang terlalu malam ya, Ndok? “ Kakeknya menasehati.

“ Iya, Kek! “

Mereka berdua pun berjalan bergandengan tangan menyusuri jalanan desa yang malam itu terang benderang karena banyak orang berkumpul di pinggir jalan atau depan-depan rumah untuk sekedar mengobrol atau bagi bapak-bapaknya bermain catur.

Dan anak-anak mudanya berkumpul sambil menggoda cewek-cewek yang lewat. Sesekali Jenny dan Eky menyapa beberapa kenalan mereka. Tentu saja banyak cowok yang menggoda dan bersiul-siul setiap Jenny lewat. Dan Jenny hanya tersenyum manis menanggapi mereka.

Itulah yang membuat Jenny disegani pemuda-pemuda di kampungnya sehingga mereka enggan mengganggu Jenny lebih jauh. Jenny seperti benda berharga yang patut dijaga bagi mereka. Apalagi Jenny anak yang baik hati dan ramah.

“ Jen, mau nggak aku ajak ke tempat persembunyian? “

“ Wah…mau dong! Pasti seru. “

“ Iya dong…soalnya disana juga udah ada kakak sepupuku yang baru saja datang dari Surabaya tadi siang. Makanya, aku pengen ngenalin dia ke kamu. “ Eky menggelayuti tangan Jenny.

“ Benarkah? Ya udah, yuk cepetan! Keburu larut malam. “

Kedua sahabat itu berjalan melewati jalan setapak dan akhirnya sampai di sebuah padang rumput yang tidak terlalu gelap karena sinar sang dewi malam.

“ Tuh, disana. “ Eky menunjuk ke sebatang pohon besar di tengah-tengah padang rumput di kaki gunung itu. Tampak sinar menyala terang di bawah pohon itu.

“ Halo, Kak Reaza? “ Sapa Eky pada seorang cowok yang duduk memunggungi mereka.

“ Lho, Eky? Udah datang? “ Cowok itu membalikkan tubuh dan Jenny bisa melihatnya dengan jelas. Cowok bernama Reaza itu memang sekeren namanya. Ia mengenakan celana jeans komprang selutut dan kaos  hijau lengan pendek yang membentuk tubuh bagian atasnya yang berotot dengan sempurna. Jenny berani bertaruh, ia pasti six packs.

Hati Jenny mencelos seketika melihat tampang cowok itu, benar-benar keajaiban Tuhan. Kulit kecoklatan si cowok yang tertimpa sinar pucat rembulan terlihat bersinar keemasan.

Di samping cowok itu, ada seorang gadis cilik sekitar 6 tahunan, rambutnya pendek di atas telinga dan jabrik. Pipinya tembam dan bajunya yang berenda-renda memberi kesan aneh di mata Jenny. Seorang anak laki-laki feminin mungkin? Gadis kecil itu memandang Jenny dengan kedua bola matanya yang bulat dan bibir mungilnya, membuat Jenny ingin mencubit kedua pipi tembamnya.

“ Kak, kenalin, ini Jenny. Jen, ini Kak Reaza dan adiknya, Claire, “

“ Hai, salam kenal. “ Cowok itu maju selangkah dan Jenny baru bisa melihat wajahnya lebih jelas. Rambutnya pendek dan bermodel spike walaupun agak panjang. Hidungnya mancung. Bibirnya penuh dan sempurna. Dagunya belah tengah, memberikan kesan manis dan segar pada rahangnya yang tegas. Senyum miringnya yang lebih terlihat seperti sebuah seringaian terlihat jahil sekaligus memukau.

Ia benar-benar sempurna.

Lutut Jenny lemas. Nih cowok benar-benar cakep! Sumpah! Jenny hampir terjatuh karena lututnya yang tak mau kompromi lagi. “ Ups! “ dengan tangkas Reaza menangkap tubuh Jenny dan mendekapnya refleks.

Jenny menghirup napas dalam-dalam. Reaza benar-benar harum. Wangi parfum maskulin yang juga terkesan lembut dan segar.

‘ Cowok sinar bulan! ‘ batin Jenny dalam hatinya saat kedua mata bening Reaza menatapnya teduh di bawah sinar bulan yang pucat.

Mereka berdua bersalaman cukup lama. Saling tersenyum tanpa bisa mengartikan desiran aneh di hati masing-masing.

To Be Continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s